Artikel

Keluarga Ku Kerakter Ku

Penulis : Muhammad Ghozali (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN SAS Babel ) | Diposting oleh Administrator | 15 Oktober 2019

Pada arus globalisasi yang begitu pesat ini memang memberikan dampak positif tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa disamping itu virus negatif tidak bisa dihindar lagi terutama pada generasi muda atau sering disebut generasi milinial sebagai penggerak kemajuan bangsa.

Generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Pernyataan ini akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonseia apabila menjadi kenyataan. Akan tetapi, faktanya bahwa generasi muda di Indonesia saat ini cendrung mengkhawatirkan bagi kelanjutan masa depan bangsa ini ialah kerakter atau krisis moral.

Bicara kerakter diera ini sudah tidak rancu lagi mendengar dan melihat bahwa banyak kasus yang beredar di media sosial maupun dilingkungan sekitar, dengan bermacam bentuk kriminal menyerang moral anak bangsa. Mulai dari tidak menghormati orangtua dan guru hingga narkoba, tawuran, pornografi, pembunuhan, dan sebagainya. Selain itu, kondisi lingkungan sekitar kini sangatmudah mempengaruhi generasi muda untuk melakukan hal-hal negatif hingga dengan mudah kehilangan arah dan tersesat terutama pada lingkungan keluarga.

Zastrow mengutip dari Coleman dan Cressey mengatakan bahwa yang dimaksud keluarga adalah sekelompok orang yang dihubungkan oleh pernikahan, keturunan, atau adopsi yang hidup bersama dalam sebuah rumah tangga. Keluarga menjadi benteng pertama sekaligus terkahir dalam membentuk moral generasi bangsa. Keberhasilan keluarga (orangtua) dalam membentuk watak anak sangat tergantung pada situasi dan kondisi keluarga tersebut. (Miftahul Huda,2009: 218)
Ki Hajar Dewantoro, mengungkapkan suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial.

Oleh karenanya tidak dapat dipungkiri bahwa peran keluarga begitu besar terhadap perkembangan seseorang anak didalam kehidupannya, dimana orangtua mempunyai peranan penting dalam tugas dan tanggungjawab yang besar terhadap semua anggota keluarganya yaitu lebih bersifat sebagai penuntun, pengajar, dan pemberi contoh serta pembentukan watak dan budi pekerti, latihan keterampilan, dan ketentuan rumah tangga, dan sejenisnya.
Pembentukan watak atau kerakter anak sangat ditentukan oleh kondisi dan situasi keluarga dan pengalaman-pengelaman yang dimiliki oleh keluargnya. Anak yang diberi kasih sayang dari keluarganya akan tumbuh dan berkembang secara optimal maka anak akan menjadi generasi yang berahklak dan bermoral lebih baik.

Namun sekarang ini, keluarga yang merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu. dan keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian yang kemudian disempurnakan oleh sekolah maupun lingkungan sekitar dimana anak tumbuh dan berkembang. Kini juga telah dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi dan masuknya budaya asing.

Sehingga kodratnya orangtua sebagai panutan atau model yang ditiru dan dicontoh anaknya serta keluarga menjadi benteng dan teladan pertama dihidup anak juga minim pendidikan. mulai dari pengetahuan, perilaku, mental, cara memperhatikan hingga mengawasi anak-anaknya yang terbatas. Orangtua sekarang seperti sudah lepas tangan terhadap pergaulan anaknya yang berakibat membawa anak pada arus negatif seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang dan lain-lain yang dapat merusak mental dan masa depan anak khususnya para anak muda dan pelajar yang diharapkan menjadi generasi penerus bangsa.

Selain itu, dalam hal pendidikan disekolah orangtua masih berorientasi pada nilai-nilai angka, orangtua sibuk mencari tempat kursussan ternama hingga lupa pendidikan kerakter anaknya, akhlak dan perilaku sesama teman, guru, lingkungan begitu pun orangtua itu sendiri. Sepertinya di era ini sebuah ilmu yang mengajarkan adab atau akhlak kini mulai pudar dalam dunia pendidikan maupun lingkungan keluarga.

Menilik dari paparan diatas, ada beberapa hal yang menjadi gagasan dalam menghindari dan mengahadapi hal tersebut. pertama, orangtua guru dan pemerintah saling barsinergi membangun sistem penanaman nilai-nilai kerakter kepada anak meliputi komponen kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan yang maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa keseluruhan, sehingga menjadi manusia yang sempurna sesuai kodratnya.

Keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama dikenal anak harus kembali kepada fungsi tradisional keluarga yang diklasifikasikan menjadi tiga macam fungsi sosial ekonomi, karena sebagian hasil produksi yang dilakukan didalam dan diluar rumah dikelola oleh keluarga. fungsi ikatan biososial, yang ditunjukkan dengan adanya pembentukan kerabat, keturunan, dan hubungan sosial melalui keluarga yang harmonis. proses pendidikan, termasuk didalamnya penanaman nilai dan ideologi kepada anggota keluarga mulai sejak dini.

Kedua, pada saat ini rata-rata disebabkan karena pemahaman agama yang kurang, baik itu dari orang tua maupun anak-anaknya. melihat hal itu maka orangtua harus lebih dulu berkerakter atau berperilaku baik sebelum menginginkan anaknya berkerakter terpuji. oleh karena itu, perlu adanya pembentukan kerekter orangtua itu sendiri seperti memberikan pengetahuan tentang pendidikan agama kepada orangtua milinial dimana ia sebagai orang yang dekat dan orang yang pertama ditiru anak.

Ketiga, peran orangtua harus tegas menegur dan mengawasi pergaulan anaknya serta mengenalkan pendidikan agama yang langsung disampaikan dan diajarkan orangtua kepada anak.
Keempat, orangtua harus memberi teladan yang baik dimulai dari waktu spesial atau kesempatan yang baik misalnya mendidik dan membiasakan anak berperilaku baik mulai dari usia dibawah lima tahunkarena dalam usia tersebut perkembangan anak dan rasa ingin tahu sangat pesat.Kelima, membagikan dan meyempatkan waktu bersama anaknya bila perlu disiapkan waktu-waktu khusus.