Chat atau Telepon

Hi! Silahkan klik WA di bawah untuk konsultasi WhatsApp

Kami akan balas dalam beberapa menit.
Hubungi humas

Mahasiswa Prodi KPI IAIN SAS Luncurkan Kampanye Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual Lewat Media Sosial

Bangka,29/6/2026. Di tengah pesatnya tren perkembangan teknologi digital,sekelompok mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel) mengambil langkah konkret dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi positif, 25 Juni 2026.

Kampanye kreatif ini diwujudkan dengan meluncurkan rangkaian konten video edukatif mengenai pencegahan kekerasan seksualyang disebarkan secara masif melalui platform Facebook, Instagram, dan TikTok.

Gerakan digital ini diinisiasi secara sadar sebagai respons nyata terhadap urgensiperlindungan kemanusiaan, pemenuhan hak rasa aman, serta penciptaan ruang siber yang bersih dari segala bentuk pelecehan.

Dengan membidik generasi muda sebagai target audiens utama,rangkaian konten tersebut dikemas secara visual, interaktif, dan modern agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara jernih oleh masyarakat tanpa mendegradasi substansi edukasi yang mendalam.

Proyek ini digarap secara kolaboratif oleh empat orang mahasiswa aktif semester akhirJurusan KPI IAIN SAS Babel, yaitu Cici Kumala Sari, Rebiska Octa Rahmadini, Novita, dan Rina Ramadhani.

Melalui pembagian peran yang terstruktur, mulai dari penyusunan naskah, pengambilan gambar, editing video, hingga manajemen media sosial, mereka berhasil memproduksi karya siaran digital yang memiliki dampak sosial tinggi.

selaku salah satu inisiator kelompok, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan manifestasi aktual dari integrasi ilmu penyiaran, regulasi media, dan etika komunikasi yang telah mereka timba selama di bangku perkuliahan. Menurutnya, platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak boleh hanya dipenuhi oleh konten hiburan semata, tetapi juga harus dimanfaatkan sebagai mimbar syiar yang membawa maslahat bagi khalayak luas.

"Sebagai mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, kami memandang media sosial sebagai ruang siar modern yang sangat strategis. Kami melihat maraknya fenomena kekerasan seksual, baik di ranah nyata maupun siber, harus diimbangi dengan kontra-narasi yang edukatif, solutif, dan mencerahkan.

Lewat video pendek, infografis, dan ulasan kasus,kami berupaya memberikan pemahaman komprehensif agar masyarakat luas, khususnya kaum rentan, tahu bagaimana cara membentengi diri dan bertindak jika melihat atau mengalami kekerasan"

Dalam implementasinya di lapangan, strategi penyiaran konten dibagi menjadi beberapaklaster menyesuaikan dengan karakteristik algoritma dan demografi pengguna masing-masing platform.

Pada media sosial TikTok dan Instagram Reels, kelompok ini berfokus pada produksi video pendek interaktif yang membedah mitos serta fakta seputar kekerasan seksual guna memutus stigma buruk yang sering menyudutkan korban.

Sementara itu, untuk platform Facebook, strategi komunikasi yang diterapkan bergeser pada pendekatan naratif-diskursif.

Konten disajikan dalam format video kompilasi berdurasi lebih panjang serta dilengkapi takarir teks yang mendalam, hal ini sengaja dirancang guna memicu ruang diskusi yang sehat, dinamis, dan edukatif di kolom komentar antar pengguna. Materi utama yang diangkat dalam keseluruhan rangkaian kampanye digital ini disusun secara sistematis dan multidimensi.

Tim tidak hanya membatasi pembahasan pada definisi hukum kekerasan seksual, melainkan juga menyentuh aspek penting lainnya yang kerap kali terabaikan dalam diskursus publik, seperti konsep persetujuan secara sadar batasan etis pergaulan,serta pemahaman mendalam tentang penegakan kehormatan diri.

Selain itu, edukasi mengenai peran sebagai saksi aktif yang berani bertindak dan menolong korban juga mendapatkan porsi pembahasan yang signifikan.

Mahasiswa juga menyisipkan informasi akurat mengenai jaringan pengaduan resmi dan lembaga layanan psikologis yang dapat dihubungi secara cepat jika sewaktu-waktu terjadi tindak kekerasan di lingkungan sekitar kampus ataupun masyarakat umum.

Sejak pertama kali didistribusikan ke jejaring siber, kampanye edukasi yang digagas oleh Cici, Rebiska, Novita, dan Rina ini terus menuai respons positif dari warganet.

Lonjakan interaksi berupa tanda suka like, penyebaran ulang konten share serta jalinan diskusi konstruktif dikolom komentar membuktikan bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dan dibutuhkan oleh publik hari ini.

Melalui publikasi berita resmi ini, kelompok mahasiswa KPI IAIN SAS Babel tersebut berharap agar gaung pesan pencegahan kekerasan seksual ini dapat menjangkau lapisan masyarakat yang jauh lebih luas.

Mereka berkomitmen bahwa proyek tugas kuliah ini tidak boleh berhenti setelah nilai akademis keluar, melainkan harus bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial yang berkelanjutan demi mewujudkan lingkungan sosial dan akademis yang aman, bermartabat, inklusif,serta sepenuhnya bebas dari segala bentuk kekerasan.(*

Bagikan ini: