
Bangka,28/7/2026. Institut Agama Islam Negeri (IAIN)Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka dan Ketua Komisi XII DPR RI, dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), menyelenggarakan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Kedaruratan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan/atau Limbah B3 di Aula Gedung Terpadu, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan dihadiri oleh Ketua Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar ,Dr.Bambang Patijaya, S.E., M.M.,Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLH/BPLH, Dra. Laksmi Widjayanti, M.Sc.,Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Rosmawati, SKM, M.Kes.,Para Wakil rektor.,Dekan, Kepala Desa Petaling Banjar.,Petaling.,Air Duren serta ratusan mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik.
Dalam sambutannya Rektor IAIN SAS Babel, Prof.Dr.H.Janawi, M.Ag Secara khusus, kami juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Bambang Patijaya atas komitmen dan dukungannya terhadap pengembangan kampus.
Berbagai hal penting yang akan disampaikan oleh Bapak Bambang Patijaya dan Bapak Deputi kiranya dapat kita dengarkan dengan saksama, karena kami meyakini berbagai masukan dan arahan tersebut akan memberikan manfaat besar bagi kemajuan institusi ini.
Kami juga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan tindak lanjut terhadap usulan pembangunan rumah susun mahasiswa (rusunawa), yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan layanan dan kesejahteraan mahasiswa.
Periode kepemimpinan yang kami jalankan untuk menghadirkan visi - Misi yang unggul, transformatif, dan integratif. Dengan dukungan pemerintah, para pemangku kepentingan, dan seluruh sivitas akademika, kami optimistis cita-cita besar menuju UIN dapat terwujud dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLH/BPLH, Dra. Laksmi Widjayanti, M.Sc menegaskan bahwa persoalan sampah hanya dapat diselesaikan melalui perubahan kesadaran dan keterlibatan seluruh pihak."Target pengurangan sampah 100% kini dimajukan menjadi 2028, dan gerakan pemilahan sampah dari rumah sudah dimulai sejak Mei.
Kami sangat berbahagia karena ini adalah gerakan dari hati, kalau bukan dari hati, akan terpaksa.Tantangan yang harus kita jawab bersama adalah memastikan sampah yang sudah dipilah dari rumah tidak kembali tercampur di hilir," ujar Laksmi.
Menurutnya, keberhasilan transformasi pengelolaan sampah nasional membutuhkan kesinambungan antara kebijakan pemerintah dengan gerakan masyarakat.
Para pemimpin lingkungan di daerah memiliki peran penting dalam menjembatani kebijakan tersebut agar dapat diterapkan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Selanjutnya, Ketua Komisi XII DPR RI, Dr.Bambang Patijaya, S.E., M.M.,Menurutnya gagasan tersebut telah dibahas bersama Kementerian Lingkungan Hidup sejak awal 2025.
Ia juga menilai penghargaan Adipura belum cukup efektif mendorong perbaikan tata kelola sampah. Sebab, penghargaan itu dinilai belum memberi insentif yang mampu mendorong kepala daerah berani mengalokasikan anggaran lebih besar bagi sektor lingkungan.
Ia mencontohkan, sampah yang telah dipilah warga berdasarkan jenisnya kerap kembali dicampur saat diangkut menggunakan truk sampah dan pemerintah kini mulai mengubah paradigma pengelolaan sampah.
Jika sebelumnya hanya berfokus pada konsep reduce, reuse, dan recycle (3R), kini pengelolaan sampah juga diarahkan menuju konsep waste to energy, yakni mengubah sampah menjadi energi listrik.
Menurut Bambang, langkah tersebut muncul sebagai respons atas persoalan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia.
Bambang juga menyoroti lemahnya integrasi sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
Menurutnya, edukasi pemilahan sampah yang selama ini dilakukan sering kali tidak diikuti dengan sistem pengangkutan dan pengolahan yang terpisah.“Di banyak tempat kita diajarkan memilah sampah ke beberapa tempat sampah berdasarkan warna.
Tapi ketika diangkut, semuanya dicampur lagi ke dalam satu truk. Artinya, penanganan sampah kita masih parsial dan belum menjadi satu ekosistem yang saling terhubung,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, Bambang mengungkapkan pengalamannya mengunjungi Portugal yang telah berhasil mengembangkan sistem waste to energy sejak belasan tahun lalu.
Di akhir, Bambang Patijaya menilai teknologi tersebut membutuhkan investasi besar dan pengelolaan yang terintegrasi, sehingga dukungan anggaran daerah menjadi syarat utama pelaksanaannya.
Pada kesempatan ini, KLH juga menyerahkan bantuan berupa satu unit motor angkut sampah (Viar) dan tempat sampah terpilah untuk mendukung pengelolaan kebersihan lingkungan.
Usai Pembukaan di lanjutkan dengan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Kedaruratan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan/atau Limbah B3 menghadirkan narasumber Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya Kementerian Lingkungan Hidup Zaimah S.Sos dan Ketua Umum Bangka Environment Creative Activist of Babel / BECAK Muhammad Arinda Unigraha Utama, S.Pi., C.CSR.(*)



