HIMA Prodi PAI Gelar Hari Solidaritas Mahasiswa: Bentuk Calon Pendidik Berintegritas Sejak Hari Pertama Kuliah

Bangka,17/9/2026. Sambutan mahasiswa baru lazimnya diisi dengan pemaparan kurikulum yang padat dan materi teoretis yang kaku. Namun, nuansa yang berbeda tersaji di lingkungan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI), perhelatan Hari Solidaritas Mahasiswa (HSM)yang dilaksanakan di Gedung Aula Terpadu, Minggu 13 September 2026 dikemas sebagai ruang perjumpaan yang hangat, dialogis, dan penuh refleksi bagi mahasiswa baru Program Studi PAI.

Mengusung tema “Membangun Generasi Pendidik Islam yang Adaptif, Inspiratif, dan Berintegritas di Era Digital”, kegiatan ini dirancang sebagai momentum awal untuk menanamkan kesadaran profesional sekaligus membangun kebersamaan mahasiswa sejak mereka resmi menjadi bagian dari keluarga besar Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Ketua Program Studi PAI, Muhammad Rofiq Anwar, S.Pd.I. M.Pd., yang hadir membuka sekaligus mengisi kegiatan tersebut, memilih pendekatan interaktif alih-alih ceramah satu arah yang monoton. Di hadapan para peserta, Rofiq memantik diskusi melalui pertanyaan sederhana mengenai figur guru masa lalu yang paling membekas dalam ingatan mereka.Dari obrolan tersebut, beliau mengarahkan kesadaran mahasiswa pada satu titik krusial: bahwa perjalanan seorang pendidik tidak bermula saat ijazah atau surat keputusan mengajar diterima, melainkan dimulai dari bagaimana mereka membentuk diri di bangku kuliah hari ini.

“Cara mahasiswa berbicara, berpakaian, berperilaku, memperlakukan teman seangkatan, hingga tanggung jawab terhadap tugas akademik adalah cerminan integritas yang kelak mereka bawa ke ruang kelas,” ungkap Rofiq di hadapan para peserta.

Dalam sesi inti, pemaparan dijabarkan ke dalam tiga pilar utama karakter pendidik. Pertama, adaptif, yakni kesiapan menghadapi dinamika peserta didik masa depan yang hidup di tengah kecerdasan buatan dan arus informasi cepat, tanpa kehilangan akar nilai dan akhlak Islam.

Kedua, inspiratif, di mana seorang guru dituntut bukan sekadar cerdas mentransfer ilmu, melainkan mampu menyalakan harapan dan kepercayaan diri anak didik. Ketiga, integritas, yang ditekankan melalui kejujuran dalam hal-hal kecil di lingkungan kampus, seperti menghindari plagiasi, tidak menitip absen, serta bertanggung jawab penuh atas tugas yang diemban.Selain mendapatkan penguatan mengenai karakter seorang calon pendidik, mahasiswa baru juga diajak untuk membangun interaksi dan kebersamaan melalui rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh HIMA PAI.

Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa yang sebelumnya belum saling mengenal untuk mulai berkomunikasi, membangun kedekatan, dan mengenal satu sama lain sebagai bagian dari satu keluarga besar PAI.

Kehadiran HIMA PAI dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai jembatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan kemahasiswaan di lingkungan Program Studi PAI.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan bahwa kehidupan di perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas akademik di ruang kelas, tetapi juga mencakup proses membangun relasi, berorganisasi, bekerja sama, serta mengambil bagian dalam berbagai kegiatan yang memberikan pengalaman dan pembelajaran di luar perkuliahan.

Pendekatan reflektif kemudian mencapai puncaknya ketika para mahasiswa diajak mengambil waktu hening sejenak untuk menuliskan tiga hal penting di atas lembar catatan: profil guru ideal yang ingin dicapai, sifat buruk yang harus ditinggalkan sejak semester pertama, serta kesan mendalam yang ingin ditinggalkan bagi murid-murid di masa depan. Catatan tersebut dipesankan sebagai komitmen pribadi yang akan dibaca kembali kelak ketika mereka benar-benar berdiri di hadapan kelas.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan HSM karena mahasiswa tidak hanya diajak memikirkan bagaimana menjadi mahasiswa yang baik, tetapi juga mulai membayangkan sosok pendidik seperti apa yang ingin mereka hadirkan di masa depan.

Dengan demikian, proses menjadi guru dipahami sebagai perjalanan panjang yang dimulai dari pembentukan karakter dan kebiasaan sejak berada di bangku perkuliahan.Bagi mahasiswa baru, HSM menjadi pengalaman awal untuk memahami bahwa mereka kini tidak hanya berstatus sebagai mahasiswa, tetapi juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi calon pendidik Islam.

Kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi mereka dalam menjalani proses perkuliahan, menghadapi berbagai dinamika akademik maupun organisasi, serta saling mendukung selama menempuh pendidikan di Program Studi PAI.

Menutup rangkaian kegiatan akademik dan kemahasiswaan ini, para mahasiswa bersama-sama mengucapkan Janji Mahasiswa PAI sebagai ikrar awal langkah perjuangan mereka. Pengucapan janji tersebut menjadi simbol komitmen mahasiswa untuk menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh serta menjaga nilai-nilai yang melekat pada identitas mereka sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam.

Pesan penutup dari Kaprodi PAI menegaskan kembali esensi dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut: sebelum mendidik orang lain, seorang calon guru harus terlebih dahulu selesai mendidik dan memantaskan diri sendiri.

Melalui Hari Solidaritas Mahasiswa, HIMA PAI berharap pertemuan awal mahasiswa baru tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan, tetapi menjadi titik awal tumbuhnya kebersamaan, kesadaran, dan komitmen untuk bersama-sama menjadi generasi pendidik Islam yang adaptif, inspiratif, dan berintegritas di tengah perkembangan zaman.(*)

Bagikan ini: