
Pulau Panjang, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14, Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung tahun ajaran 2026 menginisiasi program "Sekolah Pantai" bagi anak-anak di Pulau Panjang.
Program ini dirancang sebagai media belajar alternatif yang memadukan pendidikan dengan pengenalan lingkungan pesisir secara langsung, dan mendapat sambutan hangat dari wali kelas maupun warga setempat.
Kegiatan yang memanfaatkan momen air laut surut ini digelar di area pantai Pulau Panjang, dengan sasaran utama anak-anak usia sekolah dasar setempat. Melalui pendekatan belajar sambil bermain di alam terbuka, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan suasana belajar yang berbeda dari ruang kelas konvensional, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap lingkungan pesisir tempat tinggal mereka.
Ketua Pelaksana program Sekolah Pantai, Nia Ramadhani, menjelaskan bahwa kegiatan ini digagas untuk mengisi waktu sore anak-anak dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Menurutnya, program ini cukup menguntungkan karena mampu mengalihkan waktu luang anak-anak yang biasanya hanya dihabiskan untuk bermain menjadi kegiatan belajar yang menyenangkan.
"Program ini sangat menguntungkan buat anak-anak di sini, karena bisa mengisi kekosongan waktu di sore hari dengan kegiatan yang lebih positif, jadi waktu mereka tidak habis hanya untuk bermain saja," ujar Nia.
Ia menambahkan bahwa materi yang diajarkan dalam Sekolah Pantai difokuskan pada dasar-dasar Bahasa Inggris, seperti pengenalan angka dan huruf, yang disampaikan dengan suasana belajar yang santai di tepi pantai."Kami mengajarkan materi dasar Bahasa Inggris, seperti pengenalan angka dan huruf-huruf.
Belajarnya di tepi pantai pada sore hari, jadi suasananya tenang, pemandangannya juga indah, dan itu sangat mendukung proses belajar anak-anak," jelasnya.Nia mengaku senang melihat antusiasme anak-anak selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai respons peserta sangat positif dan penuh semangat."Anak-anak responnya sangat positif, mereka semangat dan excited banget setiap kali ikut belajar di Sekolah Pantai," tuturnya.
Wali kelas, Ibu Nasrina, menilai program ini sangat menginspirasi anak-anak. Menurutnya, melalui Sekolah Pantai, siswa dapat belajar mengenal alam secara langsung sambil menambah ilmu pengetahuan tanpa disadari."Program Sekolah Pantai ini sangat menginspirasi anak-anak. Mereka bisa belajar mengenal alam secara langsung, dan tanpa disadari ilmu pengetahuan mereka pun ikut bertambah," ujar Ibu Nasrina.
Ia menambahkan bahwa program semacam ini berpeluang besar untuk kembali dilaksanakan apabila ada mahasiswa KKN periode mendatang yang membawa program serupa, atau bila muncul relawan yang memiliki minat dan kesukarelaan untuk mengajar di sekolah alam tersebut.
"Kalau nanti ada mahasiswa KKN lagi yang punya program seperti ini, besar kemungkinan bisa diadakan kembali. Atau kalau ada relawan yang memang punya minat dan mau mengajar dengan sukarela di sekolah alam ini, itu juga sangat membantu," tambahnya.
Senada dengan itu, wali kelas lainnya,Siti Suhera, turut memberikan respons yang sangat positif."Responnya sangat positif. Anak-anak itu senang sekali belajar di pantai, karena mereka jadi lebih dekat dengan alam. Rasanya beda dan lebih segar dibandingkan belajar di dalam kelas terus," ungkap Ibu Siti Suhera.
Ia bahkan menyatakan dukungan penuh apabila ada pihak yang bersedia mengisi kegiatan tersebut secara rutin, dan berencana merekomendasikan program ini kepada mahasiswa KKN berikutnya karena dampaknya yang dinilai sangat membantu perkembangan anak-anak di Pulau Panjang."Saya sangat mendukung kalau ada yang mau mengisi kegiatan ini secara rutin.
Saya juga berencana merekomendasikan program ini ke mahasiswa KKN selanjutnya, karena dampaknya benar-benar membantu perkembangan anak-anak di sini," katanya.
Dari sisi warga, Linda Sundari turut mengapresiasi program ini sebagai inisiatif yang bagus dan memberikan suasana baru bagi lingkungan masyarakat."Ini inisiatif yang bagus, memberi suasana baru untuk lingkungan kami. Tapi pelaksanaannya memang sangat tergantung kondisi alam.
Kalau angin kencang atau air lagi pasang, kegiatan tidak bisa jalan. Justru paling efektif itu saat air surut," jelas Ibu Linda Sundari.Lebih lanjut, ia menilai program ini efektif untuk mengurangi aktivitas anak-anak yang kurang bermanfaat, khususnya dalam menekan kecanduan bermain ponsel.
"Menurut saya ini efektif untuk mengurangi anak-anak main hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi sekarang banyak yang kecanduan HP. Dengan adanya Sekolah Pantai, mereka jadi punya kegiatan lain yang lebih positif," tuturnya.
Meski demikian, para narasumber sepakat bahwa keberlanjutan program ini menjadi tantangan tersendiri. Ibu Linda Sundari menegaskan bahwa kelanjutan Sekolah Pantai sangat bergantung pada ketersediaan tenaga pengajar.
"Kalau tidak ada gurunya, program ini otomatis tidak bisa jalan lagi. Makanya kami sangat setuju kalau mahasiswa KKN periode berikutnya mau meneruskan program ini, supaya kenangan dan manfaatnya buat anak-anak di sini tetap terjaga," pungkasnya.
Program Sekolah Pantai yang digagas Kelompok 14 KKN IAIN SAS Babel ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung dunia pendidikan di wilayah pesisir, sekaligus membuka ruang harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan oleh mahasiswa KKN maupun relawan pada masa mendatang.(SL)

