
*PANGKALPINANG* – Puluhan pemimpin muda dari berbagai madrasah di Kepulauan Bangka Belitung berkumpul dalam ruang tatap muka maya untuk mengikuti kegiatan "Penguatan HAM Bagi Para Kader Pemimpin", Selasa, 22 September 2026.
Acara yang ditujukan bagi Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) dan Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) se-Provinsi Bangka Belitung ini berlangsung antusias melalui Zoom Meeting.
Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Ibu Anis Ratna Ningsih, selaku Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan Hak Asasi Manusia (Kabid IDP) pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil KemenHAM) Kepulauan Bangka Belitung, yang hadir mewakili Kakanwil KemenHAM Babel. Dipandu oleh Mirsandi sebagai moderator, diskusi virtual ini menghadirkan gagasan-gagasan bernas tentang pentingnya keadilan dan perlindungan hak asasi di lingkungan sekolah.
Pemateri pertama, Vitta Damayanti selaku Ketua Tim Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Babel, membawakan materi bertajuk "Menjadikan HAM Sebagai Pilar Utama Ketua OSIM dan MPK".
Ia menegaskan bahwa konsep dasar HAM di madrasah mencakup hak merasa aman, hak belajar, hak dihormati, dan hak mengeluarkan pendapat. Vitta menyoroti berbagai tantangan di lapangan, seperti budaya senioritas, normalisasi kekerasan, penyalahgunaan wewenang, hingga kesenjangan komunikasi.
Sebagai solusi nyata, ia mendorong terbentuknya pos pengaduan, penegakan keadilan restoratif, dan sinergi internal agar OSIM dapat menjadi teladan kepemimpinan yang inklusif dan MPK sebagai pengawas yang adil.
*Sorotan Utama: Kepemimpinan Berbasis HAM oleh Reski Anwar*
Sesi semakin memanas dan interaktif saat pemateri kedua, Reski Anwar,, Dosen Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung, mengambil alih ruang virtual.
Dengan gaya bahasa yang lugas dan membakar semangat, Reski menyajikan materi "Kepemimpinan Berbasis HAM: Membangun Kepekaan, Mewujudkan Keadilan di Sekolah".Reski menekankan bahwa pemimpin tanpa pemahaman HAM dapat berubah menjadi alat penindas tanpa disadari. "OSIM dan MPK harus menjadi pelindung, bukan alat untuk melestarikan tradisi buruk atau senioritas," tegasnya.
Ia menantang para ketua OSIM dan MPK untuk pantang merasa terlalu aman. Menurutnya, rasa nyaman justru dapat menjadi ancaman bagi keadilan, karena jika masih ada satu siswa saja yang tertindas, berarti kondisi sekolah belum baik-baik saja.
Lebih jauh, Reski mengajak para pelajar untuk berani mengambil risiko demi kebaikan, termasuk risiko dimusuhi karena berani menghapus budaya perpeloncoan. Ia menegaskan bahwa masa muda adalah waktu yang tepat untuk berani gagal demi kebaikan bersama, karena nilai kepemimpinan sejati ada pada prosesnya.
Reski juga mengingatkan pemimpin muda untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, di mana penindasan kini sering terjadi di dunia maya (kekerasan digital), sehingga OSIM dan MPK harus sigap membuat aturan pencegahannya.
"Saat kakak kelas menuntut disiplin yang menindas, pemimpin harus berani berkata: TIDAK. Rasa hormat tidak bisa dipaksakan dengan ketakutan," papar Reski dengan tegas.
Ia juga menjabarkan peran konkret OSIM sebagai pelaksana yang merangkul semua golongan, dan MPK sebagai penyedia saluran pengaduan rahasia yang terpercaya tanpa ancaman hukuman bagi siswa yang berpendapat.
Di akhir paparannya, Reski menitipkan pesan utama yang mendalam: "Warisan pemimpin adalah rasa aman. Bukan acara paling mewah, tetapi saat siswa yang pendiam merasa didengar, aman, dan dilindungi."
*Diskusi Interaktif dan Solusi Taktis
*Sesi tanya jawab berlangsung sangat hidup. Habibi, perwakilan OSIM MAN Insan Cendekia (IC) Bangka Tengah, melempar pertanyaan tajam mengenai bagaimana OSIM dapat merubah pola pikir agar kegiatan sekolah bisa mengakomodasi keadilan bagi siswa lain, bukan hanya untuk anak-anak populer.Menjawab hal ini, Reski Anwar memberikan solusi taktis yang lugas.
Ia mengarahkan OSIM untuk mulai mendengarkan usulan dari siswa yang paling diam, meruntuhkan tembok "kelompok teman dekat" dengan melibatkan semua perwakilan kelas dalam kepanitiaan, dan meragamkan sasaran acara agar tidak hanya berfokus pada fisik atau olahraga, tetapi juga mewadahi adu otak dan seni.
Reski juga menuntut OSIM untuk menghapus hambatan biaya agar tidak ada diskriminasi ekonomi, serta mengganti tradisi menghukum dengan sistem penghargaan yang mendidik.Antusiasme berlanjut saat perwakilan OSIM dan MPK Madrasah Aliyah Al Muhajirin (Malmuba) Koba bertanya tentang cara pelajar menyalurkan aspirasi kepedulian terhadap kurangnya perlindungan HAM, dengan tetap menyeimbangkan hak untuk didengarkan dan hak pihak lain untuk bersuara.Reski menjawab pertanyaan ini dengan sangat terstruktur.
Ia menyarankan para pelajar untuk menggunakan jalur yang tepat dan aman seperti kotak aduan MPK, serta selalu membawa fakta nyata alih-alih sekadar luapan emosi. Reski juga menekankan pentingnya membuka ruang dialog dua arah dengan posisi duduk melingkar agar semua pihak setara, selalu menanyakan ketersediaan pendapat yang berbeda agar kelompok minoritas terwadahi, dan berfokus pada solusi pemulihan kekeluargaan daripada memperuncing permusuhan.
*Apresiasi Tinggi dan Proyek Lanjutan Duta HAM*
Acara yang dipandu apik oleh Mirsandi ini ditutup dengan suasana yang penuh semangat. Kabid IDP Kanwil KemenHAM Babel, Ibu Anis Ratna Ningsih, dalam pidato penutupnya memberikan apresiasi penuh dan rasa kagum yang luar biasa kepada seluruh peserta.
Ia memuji bagaimana diskusi di ruang virtual tersebut hidup, menarik, dan memperlihatkan kecerdasan para Ketua OSIM dan MPK se-Bangka Belitung.
Ibu Anis menaruh harapan besar agar ilmu yang didapat hari ini menjadikan para siswa sebagai penggiat HAM di sekolah masing-masing.
Ia juga membawa kabar gembira bahwa kegiatan ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Ke depan, akan ada proyek lanjutan berupa pemilihan "Duta HAM" yang berjenjang dari tingkat kabupaten/kota naik hingga ke tingkat provinsi.
Program ini akan terus dikolaborasikan dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) setempat. Penutup yang menggugah ini menjadi penanda bahwa diskusi hari ini adalah tahap awal yang brilian, dan Kanwil KemenHAM menantikan perjumpaan di forum-forum luar biasa berikutnya.(*)


