
BANJARMASIN. Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (FORDETAK) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia resmi menggelar Pertemuan Tahunan 2026 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tema kegiatan tentang Strengthening Collaboraion and Innovation in Islamic Teacher Education Toward World Class PTKIN.
Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari 44 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) dari seluruh pelosok Tanah Air untuk merumuskan langkah konkret atas berbagai dinamika pendidikan Islam modern.Kegiatan ini diikuti oleh para dekan, wakil dekan 1,2,3 serta kabag fakultas berjumlah 127 peserta.
Fakultas Tarbiyah ikut dalam kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Dr. Subri Hasan, M.S.I dan Wakil Dekan 1 Dr. Febrino, MA. Kegiatan berlangsung selama 3 hari dari tanggal 12-14 Agustus 2026 di hotel galaxy Banjarmasin. Di sela kegiatan fakultas tarbiyah melakukan PKS dengan FTK UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan IAIN Kerinci.
Sejumlah isu krusial menjadi agenda utama pembahasan dalam forum tahunan ini, mulai dari peningkatan kualitas dan kompetensi calon guru, fenomena penurunan minat calon mahasiswa baru yang masuk ke PTKIN, hingga kerangka regulasi penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG) serta problematika akademik Perguruan Tinggi.Dalam pembukaannya, ketua fordetak H. Fakry Hamdani, SS., M.Hum., Ph.D., Dekan FTK UIN SGD Bandung secara tegas menggarisbawahi bahwa tantangan dunia pendidikan ke depan menuntut lulusan Tarbiyah tidak lagi sekadar menguasai teori pedagogik konvensional dan literasi keagamaan dasar. Di tengah eksistensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan disrupsi teknologi pembelajaran, lulusan Fakultas Tarbiyah dituntut untuk adaptif terhadap penguasaan technological pedagogical content knowledge (TPACK) serta standar kompetensi global.
Forum menyepakati perlunya reorientasi kurikulum nasional yang mampu memadukan kedalaman nilai-nilai keislaman dengan keterampilan abad ke-21, seperti pemikiran kritis, literasi digital, dan kemampuan navigasi media modern.
Selain peningkatan mutu lulusan, isu tata kelola dan transformasi regulasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) menjadi pembicaraan paling hangat dan dinamis dalam ruang sidang. Evaluasi komprehensif dilakukan untuk membedah berbagai sumbatan (bottleneck) operasional, mulai dari antrean panjang peserta sertifikasi, pemenuhan kuota LPTK, hingga harmonisasi regulasi lintas kementerian antara Kementerian Agama dan Kemendikbudristek.
Langkah ini krusial dilakukan untuk memastikan pelaksanaan PPG di lingkungan PTKIN dapat berjalan efisien, beriringan dengan arah kebijakan nasional, serta mampu memberikan jaminan kualitas dan kepastian karier yang lebih baik bagi para pendidik di masa depan.
Di sisi lain, tren penurunan kuantitas pendaftar calon mahasiswa di sejumlah PTKIN juga mendapat perhatian serius dari 44 pimpinan fakultas yang hadir. Para dekan membedah secara mendalam berbagai faktor penyebabnya, mulai dari pergeseran demografi Generasi Z dan Alpha, perubahan preferensi karier generasi muda yang cenderung memilih program studi berbasis teknologi praktis, hingga isu persepsi publik terhadap daya serap kerja lulusan keguruan.
Melalui analisis ini, forum merumuskan restrategi promosi nasional yang lebih modern, efektivitas sistem penerimaan mahasiswa baru (SPAN-UM PTKIN), serta mendorong pembentukan program studi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja era digital tanpa menghilangkan kehasan PTKIN.
Selain itu terkait isu penurunan jumlah pendaftar mahasiswa baru, pengelolaan dan optimalisasi kuota Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) menjadi salah satu instrumen paling vital yang dibahas dalam forum tahunan ini.
Forum menilai bahwa Beasiswa KIP Kuliah bukan sekadar program jaring pengaman sosial, melainkan strategi kunci untuk menjangkau calon mahasiswa berprestasi dari daerah terpencil serta keluarga kurang mampu agar tetap dapat mengecap pendidikan tinggi keagamaan.
Para dekan menyoroti pentingnya efisiensi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran dalam proses seleksi penerima beasiswa KIP di setiap LPTK. Evaluasi mendalam dilakukan terkait kuota distribusi beasiswa KIP Kuliah di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, di mana porsi terbesar diharapkan dapat dialokasikan pada program studi keagamaan dan keguruan yang sedang mengalami penurunan minat, guna menjaga keberlangsungan daya tampung serta mutu akademiknya.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel), Dr. Subri Hasan, M.S.I., menegaskan pentingnya konsolidasi nasional ini dalam menjawab tantangan riil di lapangan."Pertemuan FORDETAK di Banjarmasin ini merupakan momentum yang sangat strategis bagi seluruh pimpinan Fakultas Tarbiyah. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi dinamika akademik saat ini," ujar Dr. Subri di sela-sela kegiatan.
Melalui forum ini, seluruh peserta sepakat merumuskan draf rekomendasi kebijakan (policy brief) yang akan diserahkan kepada Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Rekomendasi tersebut mencakup perbaikan skema beasiswa/insentif mahasiswa PTKIN, memastikan pembukaan jalur prajabatan di PPG, persoalan KIP mahasiswa di seluruh FTK/FTIK se-Indonesia.
Kegiatan fordetak seperti ini diadakan setiap tahun sebanyak 2 kali secara bergiliran di setiap daerah Indonesia. Kegiatan fordetak di Banjarmasin ini diakhiri dengan kegiatan seminar internasional tentang “Transforming Islamic Education For Sustainable Development: Bridging Tradition and Innovation. Speakers Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA (Dirjen Pendis Kemenag RI), Prof. Etin Anwar, Ph.D., (Hobart and William Smith College, USA), Prof. Dr. Zainal Abidin Sanusi (International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia), Prof. Dr. Jamhari Makruf, MA (Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Indonesia). (*)
