Hubungi humas

Mahasiswa KKN IAIN SAS Babel Kelompok 4 Menggali Jejak Sejarah Desa Mempaya Bersama Tetua Adat

Belitung Timur, 20/7/2026. Sebagai upaya mengenal lebih dekat sejarah serta kearifan lokal Desa Mempaya, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)Kelompok 4, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman sesepuh adat sekaligus dukun kampung, Datuk Selani bin Abdul Ghani, pada Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 18 juli 2026.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mendengarkan kisah-kisah yang diwariskan secara turun-temurun mengenai asal-usul desa, kehidupan masyarakat, hingga adat istiadat yang masih dijaga hingga saat ini.

Datuk Selani merupakan tokoh adat yang telah mengemban amanah sebagai dukun kampung selama 26 tahun.

Dengan penuh kerendahan hati, beliau menyambut kedatangan mahasiswa KKN dan membagikan berbagai pengetahuan mengenai perjalanan panjang Desa Mempaya.

Beliau juga di kenal sebagai tempat pengobatan non medis di kampung ini "Kalau ingin mengenal sebuah kampung, jangan hanya melihat keadaan hari ini. Kenali juga sejarahnya, adatnya, dan nilai-nilai yang dijaga masyarakatnya," tutur Datuk Selani membuka perbincangan.

Dalam cerita yang disampaikan, Datuk Selani menjelaskan bahwa nama Desa Mempaya berasal dari Bukit Mempaya, sebuah bukit yang berada di wilayah tersebut dan menjadi penanda kawasan sejak dahulu. Nama bukit itulah yang kemudian diabadikan sebagai nama kampung hingga sekarang.

Beliau juga menceritakan perkembangan wilayah administratif di sekitar Desa Mempaya.

Menurutnya, kawasan ini memiliki keterkaitan dengan beberapa desa lain, seperti Aik Kelik, Aik Lanci, Mengkubang, dan Sukamandi, yang berkembang melalui proses pemekaran wilayah.

Selain itu, Kecamatan Damar sendiri resmi terbentuk melalui pemekaran pada tahun 2010, yang kemudian membawa perubahan dalam sistem pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Tak hanya membahas sejarah, Datuk Selani juga memperkenalkan kehidupan sosial masyarakat Desa Mempaya.

Beliau menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor perkebunan, bekerja di perusahaan kelapa sawit, serta aktivitas pertambangan timah yang telah lama menjadi bagian dari perekonomian masyarakat setempat.

"Masyarakat di sini kebanyakan berkebun. Ada juga yang bekerja di perusahaan sawit, dan tidak sedikit yang mencari nafkah dari tambang timah. Itulah mata pencaharian yang paling banyak dijalani warga," jelas beliau.Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa KKN juga memperoleh informasi mengenai potensi ekonomi desa.

Datuk Selani menyampaikan bahwa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Mempaya mengelola beberapa unit usaha yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa usaha yang dijalankan di antaranya peternakan ayam, penyediaan telur, depot air minum isi ulang (galon), serta unit usaha lainnya yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Selain itu, Datuk Selani mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih terdapat berbagai aturan adat, pantangan, dan larangan yang dihormati oleh masyarakat Desa Mempaya.

Nilai-nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan terhadap adat, leluhur, serta upaya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan lingkungan sekitar.Kunjungan ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN.

Melalui cerita dan pengetahuan yang disampaikan langsung oleh sesepuh adat, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai sejarah desa, tetapi juga memahami pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai identitas yang patut dilestarikan di tengah perkembangan zaman(*)

Bagikan ini: