"Ketika Suara-Suara Kecil Akhirnya Berani Berkata: Sosialisasi Anti-Perundungan di SDN Kertasari"

Pada hari Rabu, tanggal 12 Agustus 2026, bertempat di halaman SD Negeri Kertasari, telah dilaksanakan kegiatan sosialisasi anti perundungan yang diselenggarakan oleh Kelompok 119 Kuliah Kerja Nyata.

Kegiatan ini dihadiri oleh peserta didik kelas IV hingga VI SD Negeri Kertasari beserta seluruh panitia pelaksana. Acara dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh Aghnia Balqis selaku pembawa acara, yang menyapa seluruh peserta dengan ramah dan menciptakan suasana yang akrab sejak awal.

Selanjutnya, Jessi Dwi Putri dan Mochammad Ravi Al-ansori menyampaikan materi sosialisasi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, diawali dengan pertanyaan pemantik mengenai pengertian perundungan.

Pemaparan tersebut berhasil memancing antusiasme peserta didik, sehingga mereka yang biasanya cenderung diam mulai berani mengemukakan pendapat, menceritakan pengalaman yang pernah dialami, hingga memperagakan bentuk-bentuk perlakuan yang tergolong perundungan.

Suara-suara yang selama ini terpendam akhirnya berani disampaikan secara terbuka. Setelah pemaparan materi selesai, dilaksanakan sesi pengungkapan pengalaman, di mana seluruh peserta didik diminta menuliskan apa yang pernah mereka alami pada selembar kertas, kemudian memasukkannya ke dalam kotak yang telah disiapkan berdasarkan kelompok tempat kejadian, yaitu di rumah, di sekolah, di lingkungan tempat tinggal, dan di media sosial.

Sesi ini berlangsung diiringi lagu yang menciptakan suasana yang menyentuh hati berjudul Kembali Pulang oleh Feby Putri dan Suara Kayu. Dari hasil tulisan yang terkumpul, diketahui bahwa lingkungan sekolah menjadi tempat yang paling sering menjadi lokasi terjadinya perlakuan yang tidak menyenangkan bagi peserta didik.

"Selanjutnya, seluruh peserta diajak melakukan gerakan simbolis berupa pelukan diri sendiri atau yang disebut sebagai "butterfly hug", sebagai bentuk penghibur diri dan pengingat agar berani bersuara apabila mengalami perlakuan yang merugikan".

Tim pelaksana juga menyampaikan pesan agar peserta didik tidak takut menyampaikan ketidaknyamanan yang dirasakan, serta senantiasa menjaga sikap saling menghargai antar sesama.

Pada sesi ini, suasana menjadi sangat haru, di mana banyak peserta didik yang menumpahkan perasaannya melalui tangisan sebagai bentuk kelegaan karena akhirnya perasaan yang dipendam selama ini telah didengar, sehingga dalam ruangan penuh dengan suara isakan tangis di tenangkan oleh pendamping di antaranya Alifah Prasetiani, Yolanda Sapitri, Nurul Afdalia Zalsabilla, Amelia Rahmawati, Denia Multi Ramadhani, Nadia Rosikhoh, Azkia Rahma, Annisa Nur Rosidah, Muhammad Ilham Yusuf, Muhammaf Rofiq, Muhammad Lutfi Yahya, Muhammad Fajar Azhari. Seluruh tim pendamping segera memberikan dukungan dan penghiburan kepada peserta didik hingga suasana perlahan kembali tenang.

Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai tanda kenang-kenangan. Dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan, dapat diketahui bahwa peserta didik menjadi lebih memahami mengenai perundungan serta mulai berani menyampaikan apa yang mereka rasakan. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat tercipta lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.(*)

Bagikan ini: