
Bangka Tengah, 12 Agustus 2026 — Upaya menanamkan kesadaran tentang pentingnya saling menghargai dan membangun lingkungan sekolah yang aman terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif.
Salah satunya melalui kegiatan “Sosialisasi Anti Bullying” yang dilaksanakan di SD 8 Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung yang sedang melaksanakan pengabdian di Dusun Baskara, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang.
Program tersebut diinisiasi oleh Divisi Pendidikan kelompok KKN yang diketuai oleh Ahmad Fauzan, sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan.Kelompok KKN ini sendiri berada di bawah koordinasi Calvin, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, yang dipercaya sebagai ketua kelompok.
Melalui program sosialisasi ini, mahasiswa tidak hanya berupaya memberikan pemahaman mengenai apa itu bullying, tetapi juga mengajak para siswa untuk memahami dampak dari perundungan serta pentingnya membangun sikap empati kepada sesama.Kegiatan menghadirkan tiga pemateri, yaitu Indah Puji Lestari, Ahmad Fauzan, dan Calvin.
Ketiganya secara bergantian menyampaikan materi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Penyampaian materi dibuat interaktif agar siswa tidak sekadar mengetahui pengertian bullying, tetapi juga mampu mengenali bentuk-bentuk perundungan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan sosialisasi dibagi ke dalam tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pemberian materi mengenai anti bullying. Pada tahap ini, siswa diperkenalkan dengan pengertian bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying, dampak yang dapat ditimbulkan terhadap korban, serta pentingnya menjaga ucapan dan perilaku terhadap teman.Para siswa juga diajak memahami bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Kata-kata, ejekan, panggilan yang tidak disukai, tindakan mengucilkan, maupun perilaku menyakiti secara fisik dapat meninggalkan dampak bagi seseorang. Oleh karena itu, siswa diajak untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan teman dan berani mengatakan bahwa bullying bukanlah sesuatu yang patut dibenarkan.
Tahap kedua dilanjutkan dengan pemutaran video pembelajaran tentang anti bullying. Penggunaan media audiovisual menjadi salah satu cara untuk membantu siswa memahami materi melalui gambaran yang lebih konkret.
Melalui video tersebut, siswa diajak melihat bagaimana sebuah tindakan perundungan dapat memengaruhi perasaan seseorang dan bagaimana seharusnya seorang teman bersikap ketika melihat atau mengalami tindakan bullying.Suasana kegiatan kemudian menjadi lebih reflektif ketika memasuki tahap ketiga, yaitu sesi Butterfly Hug. Pada sesi ini, siswa diarahkan untuk menenangkan diri, memberikan perhatian kepada perasaan mereka, serta melakukan refleksi terhadap pengalaman dan perilaku yang pernah dilakukan kepada orang lain.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam kegiatan. Beberapa siswa tampak terharu dan bahkan menitikkan air mata ketika diajak merenungkan kembali arti sebuah perkataan, perlakuan, dan sikap terhadap teman. Tangisan yang muncul bukan sekadar luapan emosi, tetapi menjadi bagian dari proses refleksi agar siswa dapat memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dihargai.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa KKN berusaha menyampaikan pesan bahwa meminta maaf, memaafkan, menyayangi, dan memperlakukan orang lain dengan baik merupakan bentuk keberanian, bukan kelemahan. Siswa juga diajak untuk menyadari bahwa mereka memiliki peran dalam menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, aman, dan menyenangkan bagi semua.Kegiatan sosialisasi ini tidak berhenti pada penyampaian materi semata.
Lebih dari itu, mahasiswa KKN ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang bagi siswa untuk belajar tentang empati, kepedulian, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Sebab, pencegahan bullying tidak hanya menjadi tugas guru maupun orang dewasa, tetapi juga membutuhkan keterlibatan setiap siswa.
Bagi mahasiswa KKN IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan di wilayah pengabdian.
Melalui pendekatan yang sederhana, interaktif, dan menyentuh sisi emosional siswa, diharapkan pesan anti bullying dapat lebih mudah dipahami dan diingat oleh mereka.
Pada akhirnya, kegiatan “Sosialisasi Anti Bullying” menjadi sebuah pengingat bahwa menciptakan sekolah yang aman dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana: berbicara dengan baik, menghargai perbedaan, tidak menyakiti teman, berani membela yang benar, dan saling peduli.Karena setiap anak berhak datang ke sekolah tanpa rasa takut, belajar tanpa tekanan, bermain tanpa merasa dikucilkan, dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh rasa aman serta kasih sayang.
Dari kesadaran kecil hari ini, diharapkan lahir generasi yang lebih berempati dan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying.(*)


