FIKSI FSEI Bahas Sinergi Teknologi dan Fikih Islam dalam Analisis Deviasi Arah Kiblat Pada Masjid-Masjid di Kota Pangkalpinang, Indonesia.

Pangkalpinang, 7 Agustus 2026 — Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung kembali menyelenggarakan Forum Ilmiah Kajian Studi Islam (FIKSI) sebagai wadah pengembangan wawasan keilmuan dan diskusi akademik bagi dosen dan sivitas akademika Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) 

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Jumat, 7 Agustus 2026, pukul 13.00 WIB tersebut mengangkat tema “Sinergi antara Teknologi dan Fikih Islam: Analisis pada Deviasi Arah Kiblat pada Masjid-Masjid di Kota Pangkalpinang, Indonesia.” 

FIKSI merupakan agenda rutin Perkumpulan Dosen dan pegawai Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) yang menjadi ruang bagi para dosen dan pegawai untuk berbagi pengetahuan, mendiskusikan isu-isu aktual, serta mengembangkan kajian keislaman yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. 

Pada kesempatan kali ini, H. Reno Ismanto, Lc., MIRKH, selaku Ketua Program Studi Perbankan Syariah FSEI, hadir sebagai pemateri. Sementara itu, kegiatan dipandu oleh Agnes Fransiska Dewi, M.Par, Sekretaris Program Studi Pariwisata Syariah FSEI, sebagai moderator.

Dalam kajiannya, pembahasan difokuskan pada analisis deviasi atau penyimpangan arah kiblat pada 12 masjid yang berada di Kota Pangkalpinang. Kedua belas masjid tersebut menjadi objek penilaian untuk melihat sejauh mana kesesuaian arah kiblat masjid dengan arah kiblat yang seharusnya berdasarkan hasil pengukuran dan analisis yang dilakukan. 

Kajian ini menjadi menarik karena persoalan arah kiblat tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pengukuran, tetapi juga memiliki dimensi fikih Islam yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan ibadah umat Muslim.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mempertemukan ketepatan teknologi dengan landasan keilmuan fikih. Pemanfaatan teknologi dalam pengukuran arah kiblat memungkinkan proses pengecekan dilakukan dengan tingkat ketelitian yang lebih baik.

Melalui pengukuran terhadap 12 masjid di Kota Pangkalpinang, kajian ini berupaya memberikan gambaran mengenai kondisi arah kiblat di lapangan sekaligus mengidentifikasi adanya kemungkinan deviasi dari arah kiblat yang semestinya. 

Hasil penilaian terhadap kedua belas masjid tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai bagaimana teknologi dapat bersinergi dengan fikih Islam. Teknologi berfungsi sebagai instrumen untuk memperoleh data dan hasil pengukuran yang lebih akurat, sedangkan fikih memberikan perspektif normatif dalam memahami persoalan arah kiblat dan implikasinya terhadap pelaksanaan ibadah. 

Kegiatan FIKSI berlangsung secara interaktif dan antusias melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan pandangan terkait hasil penilaian terhadap 12 masjid serta keterkaitan antara teknologi dan ketentuan fikih dalam persoalan arah kiblat. 

Melalui penyelenggaraan FIKSI secara rutin, FSEI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung terus mendorong terciptanya tradisi akademik yang kritis, kolaboratif, dan responsif terhadap persoalan masyarakat.

Kajian mengenai deviasi arah kiblat pada 12 masjid di Kota Pangkalpinang ini menjadi salah satu contoh bagaimana kajian Islam dapat dikembangkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan pendekatan ilmiah. 

FIKSI diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu di kalangan dosen dan pegawai Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, tetapi juga dapat menghasilkan kajian yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menjawab persoalan-persoalan keislaman yang berkembang di tengah kemajuan teknologi(*)

Bagikan ini: