Jejak Ulama Abad ke-19 Dikaji, FIKSI FSEI Angkat Warisan Intelektual Syekh Abdurrahman Siddik Al-Banjari

Bangka,21/8/2026. Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) menyelenggarakan kegiatan *FIKSI (Forum Ilmiah Kajian Studi Islam)* dengan mengangkat tema “Profil Syekh Abdurrahman Siddik Al-Banjari: Menelisik Prospek Pengembangan Kajian Ulama Abad ke-19.”

Kegiatan ini menjadi salah satu wadah akademik bagi sivitas akademika untuk memperluas wawasan dan memperdalam kajian mengenai khazanah intelektual Islam, khususnya pemikiran dan kontribusi ulama pada abad ke-19 secara daring.Jumat,21/8/2026.

Dalam kegiatan tersebut,Kasubag Tata Usaha FSEI Ahmad Suwaidi, S.Ag. hadir sebagai pemateri yang menyampaikan berbagai perspektif mengenai sosok Syekh Abdurrahman Siddik Al-Banjari. "Pembahasan diarahkan pada profil, perjalanan intelektual, kontribusi keilmuan, serta warisan pemikiran Syekh Abdurrahman Siddik yang memiliki nilai penting dalam perkembangan studi Islam".

Kajian tersebut juga menempatkan sosok ulama tidak hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai sumber inspirasi dan objek penelitian yang relevan untuk dikembangkan dalam konteks akademik masa kini.

Kegiatan FIKSI ini dimoderatori oleh Yudi Rudi, S.E., S.Pd., M.E. Jalannya diskusi berlangsung secara ilmiah dan interaktif dengan memberikan ruang bagi peserta untuk menyimak pemaparan materi sekaligus mendiskusikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pemikiran ulama abad ke-19.

"Diskusi juga membuka perspektif mengenai pentingnya menggali kembali karya, pemikiran, metode dakwah, serta kontribusi ulama lokal dan Nusantara dalam membangun tradisi keilmuan Islam".

Tema yang diangkat menjadi semakin relevan karena kajian terhadap Syekh Abdurrahman Siddik Al-Banjari memiliki peluang untuk dikembangkan dalam berbagai bidang penelitian.

Kajian tersebut dapat mencakup aspek sejarah intelektual Islam, pendidikan, pemikiran keislaman, sosial-keagamaan, manuskrip, hingga relevansinya dengan kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan demikian, warisan intelektual ulama tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat terus dikaji, didokumentasikan, dan dikembangkan sebagai bagian dari khazanah akademik.

Melalui FIKSI, FSEI berupaya membangun budaya akademik yang mendorong sivitas akademika untuk aktif berdiskusi, meneliti, dan mengembangkan kajian Islam secara kritis dan kontekstual.

"Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang berkelanjutan untuk menghidupkan kembali tradisi ilmiah sekaligus memperkuat perhatian terhadap warisan intelektual ulama Nusantara".

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi Islam di lingkungan FSEI serta mendorong lahirnya kajian-kajian baru mengenai ulama dan sejarah intelektual Islam di Nusantara.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya menjadikan FIKSI sebagai forum ilmiah yang mampu mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan akademik dan perkembangan masyarakat masa kini.(*)

Bagikan ini: