Melihat Peran Akademisi Alumni Pondok Pesantren Tradisonal di Indonesia dan Malaysia: Tim Penelitian Kolaborasi Internasional FDKI IAIN SAS Babel Gelar FGD di USIM Malaysia

Negeri Sembilan, Malaysia — Tim Penelitian Kolaborasi Internasional Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung menggelar diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) bersama akademisi Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset tentang peran akademisi alumni pondok pesantren tradisional di Indonesia dan Malaysia.Kamis, 15 Oktober 2026, Riset tersebut mengkaji kontribusi para akademisi berlatar pendidikan pesantren dalam dunia perguruan tinggi, termasuk bagaimana bekal keilmuan agama dan tradisi pesantren mereka berperan dalam kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan keilmuan Islam.

FGD menjadi ruang untuk menggali pengalaman dan pandangan akademisi, sekaligus membandingkan kiprah mereka di kedua negara.

Ketua tim penelitian, Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag., mengungkapkan kekagumannya saat pertama kali mengunjungi kampus USIM di Negeri Sembilan.

Ia menilai kampus tersebut memiliki lingkungan yang luas serta membawa pendekatan pendidikan yang memadukan sains dan pengetahuan keislaman.“Saya agak terkejut ketika tiba di USIM. Kampusnya begitu luas.

Hal yang juga penting, universitas ini menyeimbangkan antara sains dan bekal pengetahuan agama. Ini mengingatkan kita pada masa kejayaan Abbasiyah, ketika banyak ulama juga kompeten di bidang sains,” ujar Rusydi.

Ia berharap sejumlah peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti, antara lain melalui program lanjutan studi bagi lulusan sekolah menengah atas yang memiliki bekal agama dan ilmu alat, khususnya bahasa Arab. Selain itu, kerja sama dalam penyusunan karya ilmiah, pengelolaan jurnal, dan kegiatan akademik lainnya juga berpeluang untuk dikembangkan.

Setibanya di USIM, rombongan disambut oleh dosen bahasa Arab, Dr. Mohamad Yazid Abdul Majid, serta sejumlah dosen internasional asal Indonesia yang mengajar di universitas tersebut, yakni Associate Professor Dr. Setiyawan Gunardi, Associate Professor Dr. Mualimin Mochammad Sahid, Associate Professor Dr. Muhammad Aunurrochim Mas’ad Saleh, dan Dr. Iswandi Harahap Burhanuddin.

FGD berlangsung lancar dan turut didampingi Dr. Khazri Osman, dosen Universiti Kebangsaan Malaysia. Diskusi membahas peluang kolaborasi akademik serta kemungkinan pengembangan kerja sama antara para peneliti dan akademisi dari kedua institusi.Anggota peneliti 1, Gustin, M.Pd., menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membuka ruang untuk memperkuat hubungan akademik lintas negara.

“FGD ini menjadi langkah penting untuk membangun komunikasi dan jejaring akademik dengan para dosen di USIM. Kami berharap pertemuan ini dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan nyata, seperti pertukaran gagasan, kolaborasi penelitian, serta publikasi ilmiah bersama,” demikian usulan pernyataan Gustin.

Sementara itu, anggota peneliti 2, Dr. H. Iqrom Faldiansyah, MA, menilai pertemuan tersebut dapat menjadi pijakan awal bagi kerja sama yang lebih terarah.

“Kami melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan bersama, terutama dalam penelitian dan penguatan publikasi ilmiah. Harapannya, komunikasi yang terbangun dalam FGD ini dapat berlanjut menjadi program kolaborasi yang memberi manfaat bagi kedua institusi,” demikian usulan pernyataan Dr. H. Iqrom Faldiansyah.

Melalui kunjungan dan FGD ini, Tim Penelitian Kolaborasi Internasional FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berharap terjalin hubungan yang berkelanjutan dengan para akademisi USIM dan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Berbagai peluang yang telah dibahas diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret dalam bidang pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.(*)

Bagikan ini: