IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Marheni, dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung merupakan salah satu presenter Konferensi Annual International Conference on Islam, Science and Society (AICIS+) 2025 dalam breakout session yang dimoderatori oleh Mr. Sirajuddin Arabzada dari Pakistan dan Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum sebagai reviewer yang diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada tanggal 29-31 Oktober 2025.
Mengusung tema besar “Islam, Ecotheology, dan Transformasi Teknologi: Inovasi Multidisipliner untuk Masa Depan yang Adil dan Berkelanjutan,” konferensi ini menghadirkan kajian lintas disiplin yang menggabungkan ilmu keislaman, sains, teknologi, dan sosial untuk membahas inovasi yang berbasis nilai-nilai Islam dalam konteks keberlanjutan dan keadilan sosial.
Marheni melalui penelitian berjudul “Achieving Social Justice and Sustainable Economy through SDGs Implementation in the Framework of Maqashid Sharia” yang menyoroti pentingnya sinergi antara nilai-nilai Islam dan agenda pembangunan global.

Lima tahun setelah pandemi COVID-19, dunia masih menghadapi ketimpangan ekonomi dan kegagalan sistem keuangan dalam menjamin akses setara terhadap sumber daya. Kenaikan suku bunga dan kebijakan fiskal yang bias dinilai memperlebar kesenjangan sosial. Dalam konteks tersebut, Maqashid Sharia hadir sebagai paradigma normatif untuk melindungi kesejahteraan manusia melalui keadilan, pemerataan, dan keberlanjutan ekonomi — selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.Ujarnya
Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Maqashid Sharia—ḥifẓ al-dīn, al-nafs, al-‘aql, al-nasl, dan al-māl—sejalan dengan tujuan SDGs seperti pengentasan kemiskinan, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan. Integrasi keduanya memperkuat dimensi spiritual dan etika dalam pembangunan ekonomi.
Lebih jauh, riset ini menyoroti peran Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai jembatan operasional antara SDGs dan etika Islam. ESG dinilai mampu menghubungkan praktik korporasi dengan nilai-nilai keadilan dan tanggung jawab sosial, guna memastikan keberlanjutan ekonomi yang inklusif.

Data hasil kajian literatur menunjukkan bahwa mayoritas penelitian terkait berasal dari Malaysia dan Indonesia—dua negara dengan kontribusi signifikan dalam pengembangan keuangan syariah. Meski demikian, implementasi prinsip Maqashid Sharia dalam kebijakan publik masih dinilai bersifat simbolik, belum substantif. Penerapan SDGs berbasis Maqashid Sharia bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi juga fondasi moral menuju tatanan dunia yang lebih berkeadilan.Tutup Marheni

Terpisah, Rektor IAIN SAS Babel Dr. Irawan, M.S.I, menyampaikan rasa syukur kampusnya kembali dapat berpartisipasi dalam ajang yang mempertemukan para peneliti dari berbagai penjuru dunia ini.
“Kami merasa bersyukur dan berbangga kembali dapat berpartisipasi dalam ajang bergensi Kemenag RI ini. Semoga keterlibatan Dosen IAIN SAS Babel dalam AICIS+ 2025 dapat lebih meningkatkan reputasi akademik di kampus kami dan selamat untuk Ibu Marheni atas partisipasinya pada kegiatan ini, terang Rektor Irawan. (*)