
Padang. Tradisi Taber Laot yang hidup di tengah masyarakat pesisir Desa Batu Beriga, Kabupaten Bangka Tengah, menjadi perhatian dalam Seminar Kebudayaan pada 4th SEIBA International Festival.
Melalui kajian akademik yang mengangkat nilai-nilai ekologis dan pelestarian lingkungan laut, mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Ravelina Muzana (Prodi BKPI), mempresentasikan hasil penelitiannya pada Selasa (8/7/2026) di Universitas Imam Bonjol Padang.
Kegiatan ini mengusung tema “Sustainability from Nusantara to Global Harmony” dan menghadirkan berbagai gagasan mengenai kearifan lokal serta keberlanjutan lingkungan dari berbagai daerah.
Pada kesempatan tersebut, Ravelina mempresentasikan makalah berjudul “Tradisi Taber Laot sebagai Representasi Kearifan Ekologis Masyarakat Desa Batu Beriga, Kabupaten Bangka Tengah.” Makalah yang dipresentasikan merupakan karya asli yang belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang dalam proses publikasi di tempat lain.
Melalui penelitiannya, Ravelina mengkaji Tradisi Taber Laot sebagai representasi kearifan ekologis masyarakat Desa Batu Beriga serta menelaah nilai-nilai yang terkandung dalam hubungan antara manusia dan lingkungan laut.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan Tradisi Taber Laot tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial, semangat gotong royong, serta kesadaran ekologis masyarakat dalam menjaga kelestarian laut.
Temuan keunikan daun kesal sebagai fokus utama. Daun kesal adalah simbol utama dalam sesaji taber laot, daun kesal adalah perpaduan antara daun kesum dan daun anti-ati.
Daun kesum disimbolkan sebagai penolak bala dan daun ati-ati sebagai keselamatan dan kehati-hatian.Presentasi tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri.
Salah satu juri menyampaikan bahwa tulisan yang disusun Ravelina telah sesuai dengan tema seminar yang diangkat. Ia juga memberikan motivasi dengan mendoakan agar penelitian tersebut menjadi awal lahirnya berbagai karya ilmiah lainnya di masa mendatang.
Ravelina tampil pada kelompok Seminar Kebudayaan Sesi Paralel 1 yang dimulai pukul 13.30 WIB di Ruang Teleconference Gedung J. Keikutsertaannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa IAIN SAS Babel dalam memperkenalkan kearifan lokal Bangka Belitung di forum internasional serta memperkuat semangat pelestarian budaya dan lingkungan melalui kajian akademik.(*)


