Dosen IAIN SAS Babel Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Desa Air Anyir

avatar Tong Hari
Tong Hari

480 x dilihat
Dosen IAIN SAS Babel Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Desa Air Anyir
Sambutan Rektor IAIN SAS Babel Dr.Zayadi,M.Ag

Rektor IAIN SAS Babel Foto Bersama Tokoh Masyarakat Desa Air Anyir
Rektor IAIN SAS Babel Foto Bersama Tokoh Masyarakat Desa Air Anyir


Dody Irawan Menyampaikan Materi Tentang Peran PTKI Dalam Memperkuat Moderasi Beragama
Dody Irawan Menyampaikan Materi Tentang Peran PTKI Dalam Memperkuat Moderasi Beragama

IAINSASBABEL.AC.ID - BANGKA. Dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, LP2M yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat setiap tahunnya menyelenggarakan Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian kepada Masyarakat (LITAPDIMAS). Program LITAPDIMAS ini salah satu kegiatannya adalah Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).  Pada Kamis,19 Agustus 2021 di  Masjid Farhan Kamal Desa Air Anyir Kecamatan Merawang, PKM yang bertemakan “Membangun Moderasi Beragama Di Desa Air Anyir” dilaksanakan.  

TIM PKM ini adalah para dosen IAIN SAS Babel, Dody Irawan, M.Pd sebagai Koordinator Tim, kemudian anggota tim adalah  Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Dr. H. Muh. Misdar, M.Ag, Ketua Rumah Moderasi Beragama IAIN SAS Babel Dr. Noblana Adib M.Pd.I.,MA, kemudian dosen dan pegawai IAIN SAS Babel yaitu Dr. Rada, M.Pd.I, Dwi Haryanti, M.Pd.I, Nelly Sanawiyah, S.Sos, M.M, Rulli Fajrin, S.I.Pust, Aisyah, A, Ma.Pust dan juga terlibat mahasiswa Prodi Jurnalistik Islam, Ahmad Hanafi. Kegiatan ini juga didukung oleh para tokoh masyarakat Air Anyir, dan masyarakat desa Air Anyir dan tetap menerapkan Protokol Kesehatan.

Kegiatan PKM di Desa Air Anyir ini di buka oleh Rektor IAIN SAS Babel Dr. Zayadi, M.Ag. Dalam sambutannya, Dia mengatakan menyambut baik dan memberikan apresiasi atas kegiatan ini sekaligus ingin memperkenalkan kampus IAIN SAS Babel kepada masyarakat dan mengatakan Moderasi Beragama bukan hal asing dalam upaya  meneguhkan komitmen beragama, berbangsa dan bernegara. Sosialisasi moderasi beragama  penting untuk memberikan wawasan dan pemahaman sehingga Islam rahmatan lil ‘alamin bisa berjalan dengan baik.

Perguruan Tinggi (PT) memiliki fungsi pendidikan, yaitu seharusnya mampu mempersiapkan warga bangsa berperspektif Moderasi Beragama serta mampu mempersiapkan penguatannya. Selanjutnya, PT memiliki fungsi penelitian yakni mampu untuk melakukan penelitian dan pengembangan Moderasi Beragama dan sebagai objek penelitian. Kemudian PT bekerja dalam bidang pengabdian masyarakat. Dalam kerjanya di bidang PKM PT harus mampu mengarusutamakan perspektif Moderasi Beragama dalam masyarakat.

Berikutnya Dr, Zayadi  M.Ag mengatakan IAIN SAS Babel sebagai pusat studi dan pusat dakwah menyiarkan Islam yang moderat atau Islam rahamatan lil’alamin. Islam yang mengamalkan prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (tenggang rasa) tanpa mencerabut kultur dan fakta sosial ke-Indonesian yang majemuk. Beliau menambahkan, ikhtiar-ikhtiar melalui pendekatan akademis menjadi sebuah keseriusan peran IAIN SAS Babel dalam mendukung program Pemerintah RI melalui Kementerian Agama untuk melawan dan meminimalisir menjalarnya paham keagamaan ekslusif atau gerakan radikal di negeri.

Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Dr. H. Muh Misdar, M.Ag., sebagai anggota TIM PKM juga selaku narasumber menjelaskan mengenai moderasi beragama, kata Moderasi sama wasatha atau wasathiyah, wazannya tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Kata wasathiyah diartikan sebagai  “pilihan  terbaik”.  Kata  wasith  bahkan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata 'wasit' yang memiliki tiga pengertian, yaitu: 1. penengah, perantara (misalnya dalam perdagangan, bisnis); 2. pelerai (pemisah, pendamai) antara yang berselisih; dan 3. pemimpin di pertandingan. Moderasi beragama sikap mengurangi kekerasan atau menghindari kekerasan.

Selanjutnya, narasumber kedua sekaligus koordinator PKM, Dody Irawan, M.Pd menambahkan, Moderasi Beragama tidak hanya fisik semata yang dikuatkan, tetapi pondasi dari perilaku juga menjadi tujuan yang mesti dikuatkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Ada yang memahami moderasi agama dimaknai agamanya yang dimodernisasikan. Itu anggapan keliru, modernisasi yang dimaksudkan adalah prilaku orang beragama yang harus dimodernisasikan sesuai dengan kemajemukan Indonesia. "Masyarakat Indonesia ini majemuk, dan perilaku radikalisme dapat memecah belah persatuan. Moderasi perilaku orang yang beragama adalah jalan menjaga persatuan masyarakat Indonesia yang majemuk," tegas Dody. Acara berikutnya dilanjutkan dengan acara tanya jawab dan pada akhir acara ditutup dan foto bersama.

 

 

(Penulis: Tong Hari/Ayaknan | Editor: H. Ika Robiantari)