IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Pusat Studi AKAR BAHAR (Asosiasi Kajian dan Riset Budaya, Agama, dan Harmoni Rumpun Melayu IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, melaksanakan rangkaian kegiatan penguatan literasi Melayu Islam di Kabupaten Bangka Barat.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at-Sabtu, 14-15 November 2025, sebagai upaya memperkuat pemahaman budaya, sejarah, dan nilai-nilai Islam Melayu yang menjadi identitas penting masyarakat Bangka Belitung.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pusat Studi AKAR BAHAR dan Perpustakaan Daerah Bangka Barat. Kesepakatan ini menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem literasi daerah, terutama dalam pengembangan arsip budaya, koleksi literatur sejarah Melayu Islam, serta penyelenggaraan program edukasi publik.
Setelah agenda penandatanganan kerja sama, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan dosen PAI, peneliti, pegiat budaya, serta stake holder dan masyarakat. FGD ini menjadi ruang dialog untuk membahas arah riset kebudayaan Melayu, penguatan literasi masyarakat, serta strategi integrasi nilai-nilai Islam dalam tradisi lokal. Diskusi berjalan hangat, memperlihatkan antusiasme peserta dalam menggali dan mengonseptualisasikan identitas kebudayaan Melayu Bangka Barat.

Pada sesi berikutnya, rombongan melakukan diskusi budaya bersama tokoh budayawan Melayu Bangka Barat, Amri. Dalam diskusi tersebut, Amri memaparkan perjalanan sejarah budaya Melayu Bangka Barat, dinamika sosial masyarakat, hingga praktik-praktik kearifan lokal yang masih dipertahankan. Beliau juga menekankan pentingnya regenerasi pemahaman budaya melalui kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas budaya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta melakukan kunjungan lapangan ke Galeri Melayu Bangka Barat. Di galeri ini, rombongan melihat secara langsung artefak budaya, dokumen sejarah, kerajinan tradisional, serta koleksi visual yang mencerminkan kekayaan identitas Melayu Islam. Kunjungan ini memberikan pengalaman empiris bagi dosen dan mahasiswa untuk memahami konteks budaya secara lebih mendalam, sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan.
Kegiatan kolaboratif ini menjadi langkah konkret dalam menghadirkan koneksi antara pendidikan tinggi, institusi kultural, dan masyarakat lokal. Melalui program literasi Melayu Islam ini, diharapkan muncul generasi peneliti dan pendidik yang lebih peka terhadap budaya lokal, serta mampu mengembangkan kajian-kajian yang memperkuat identitas Melayu Bangka Belitung di tengah perubahan zaman.