IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam(PI) (Kelas C Semester 6), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung melakukan eksplorasi lapangan ke gerai fashion lokal, Tanah Wari, pada Jumat (01/05).
Kunjungan ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengembangan Masyarakat Islam yang diampu oleh Ibu Pebri Yanasari, M.A., guna mempelajari model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Tanah Wari, yang didirikan oleh Ibu Yang Finalia bersama suaminya sejak tahun 2021, bukan sekadar unit bisnis fashion. Menjelang hari jadinya yang kelima pada tahun ini, Tanah Wari telah bertransformasi menjadi medium pelestarian sejarah Indonesia sekaligus mesin penggerak ekonomi kreatif di Bangka Belitung. “Nama Tanah Wari diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti Tanah Air. Visi kami adalah mengangkat nilai sejarah dari seluruh pelosok Indonesia.

Sebagai langkah awal, kami fokus pada sejarah Bangka Belitung agar nilai-nilai tersebut tetap relevan dan dikenal oleh generasi mendatang,” ujar Yang Finalia sebagai Owner di hadapan para mahasiswa. Sentuhan Sejarah dan Identitas Lokal Salah satu keunikan yang menonjol dari produk Tanah Wari adalah integrasi material lokal yang ikonik.
Setiap produk dilengkapi dengan logo bersinar yang terbuat dari timah murni (kandungan Sn 97%), hasil kolaborasi dengan pengrajin binaan PT Timah. Keunikan dan konsistensi narasi ini membawa Tanah Wari meraih berbagai penghargaan nasional, mulai dari Bea Cukai Indonesia hingga Kementerian Perindustrian. Salah satu karya monumental mereka adalah koleksi "Jejak Suatantra", yang mengisahkan peristiwa bersejarah di Hotel Yamato melalui desain busana berkualitas tinggi.
Pemberdayaan Masyarakat Inklusif Di balik estetika desainnya, Tanah Wari menerapkan model pemberdayaan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat: Pertama, Seniman Lokal. Motif produk dibuat secara manual oleh seniman lokal menggunakan teknik dotting (titik-titik presisi) sebelum diproses secara digital.
.jpeg)
Kedua, Kelompok Penjahit: Tanah Wari memberikan pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga, lulusan tata busana, hingga penjahit profesional untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Finalia menekankan bahwa di era digital, literasi teknologi sangat penting agar produk lokal mampu bersaing secara global.
Ia berharap langkah ini menginspirasi Generasi Z dan Alpha untuk berinovasi tanpa melupakan akar budaya dan sejarah lokal. Rencana Ekspansi Saat ini, Tanah Wari beroperasi di Gedung Panti Wangka, Pangkalpinang. Sebagai upaya meningkatkan aksesibilitas, Tanah Wari berencana membuka toko resmi baru di Jalan Ahmad Yani, Pangkalpinang, pada Agustus mendatang.

Dosen pengampu, Ibu Pebri Yanasari, M.A., menutup kegiatan dengan harapan besar bagi para mahasiswanya. "Kunjungan ini memberikan gambaran nyata bagi mahasiswa tentang bagaimana model bisnis berkelanjutan dapat menjadi instrumen efektif dalam pemberdayaan masyarakat sesuai dengan modal sosial yang ada," pungkasnya.(*)