Densus 88 dan FKPT Babel: IAIN SAS Babel Perkuat Sinergi Cegah Paham IRET

avatar Tong Hari
Tong Hari

60 x dilihat
Densus 88 dan FKPT Babel: IAIN SAS Babel Perkuat Sinergi Cegah Paham IRET
Densus 88 dan FKPT Babel: IAIN SAS Babel Perkuat Sinergi Cegah Paham IRET

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.Peran Kampus sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa menuntut ilmu memiliki fungsi strategis membentuk karakter generasi muda. Karena itu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung (Babel) bersama Densus 88 menggelar kuliah umum dan dialog interaktif Peran Kampus Sebagai Ruang Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme dan Terorisme (IRET), di Aula Gedung Terpadu IAIN SAS Babel, Kamis, 27/11/2025.

Kegiatan ini mengusung tema “Upaya Antisipasi Kerentanan Mahasiswa dan Keterlibatan Anak Muda dalam Jaringan Ekstrimisme Kekerasan”.

Peneliti dan Akademisi Dr. Rida Hesti Ratnasari, M.Si sebagai narasumber utama dalam kuliah umum tersebut menyoroti pola infiltrasi kelompok ekstrem, kerentanan mahasiswa, serta strategi memperkuat moderasi beragama dan ketahanan ideologis anak muda.

“Pengaruh ideologi intoleran kini banyak bergerak di ruang digital. Mahasiswa harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak narasi yang berujung pada radikalisme,”.

Rida juga menguraikan bahaya laten ideologi Hizbut Tahrir (HT) yang dinilai tidak sejalan dengan NKRI. HT memperjuangkan pendirian negara khilafah global, menolak sistem republik, dan memanfaatkan demokrasi untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, menurutnya, HT dapat disebut sebagai “predator demokrasi”.ujarnya.

Ketua FKPT Babel, Subardi dalam sambutannya mengatakan, kejadian ledakan di SMA 72 Jakarta yang dilakukan salah satu siswanya mengejutkan banyak pihak. Hal ini menurutnya harus menjadi alarm bagi semua.

"Di Babel sudah ada anak SMA yang tergabung dalam grup ekstrimisme seperti anarko. Ini harus diwaspadai semua," katanya.

Apalagi, lanjutnya Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Babel dari beberapa kali survei selalu di atas rata-rata nasional. "Ini harus diantisipasi semua, termasuk lewat kegiatan seperti ini," ujarnya.

Kasatgaswil Densus 88 Anti Teror Babel, AKBP Maslikan mengatakan bersyukur kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua. Kenapa kita harus diskusi tentang isu IRET, penting, dunia kampus menjadi laboratorium mencari jalan keluar berbagai masalah, termasuk radikal. Melalui dialog terbuka, kampus dapat menjadi benteng awal dalam membentuk ketahanan mahasiswa dari paparan ideologi destruktif.

Dalam Hasta Cita Presiden RI, menurut Maslikan dua di antaranya adalah poin menjaga ideologi negara dan menjaga negara. Ada kasus dosen di ITB tahun 2019 menyebarkan ideologi HTI ada 110 orang anak yang memiliki ideologi ISIS dan salah satunya dari Bangka Belitung. Narasumber kita adalah mantan anggota HTI, sebagai orang yang pernah berada di dalam, maka cukup banyak pengalaman yang beliau alami," ungkapnya.

Sementara Rektor IAIN SAS Babel, Dr.Irawan,M.S.I mengatakan, IAIN SAS Babel adalah lembaga yang menyelenggarakan Tridarma Perguruan Tinggi, dan membuka peluang melakukan beragam kajian. Salah satu kajian tridharma ini adalah diskusi kita tentang radikalisme, ekstremisme dan terorisme, ujarnya.

Selain itu, kampus sebagai tempat untuk mencari ilmu, mengajarkan akhlak mulia, hingga menjadi orang yang sholeh, baik sholeh dalam ilmu pengetahuan maupun dalam prilaku. Dalam maqasid asyyari’ah, mahasiswa harus faham 5 tujuan beragama, 1) menyelamatkan agama, 2) menjaga jiwa, 3) menjaga akal, 4) menyelamatkan harta, dan 5) menyelamatkan keturunan.

Kegiatan ini didukung BIN Daerah Babel, Polda, Kesbangpol, Kemenag dan  Mahasiswa IAIN SAS Babel sebanyak 200 mahasiswa, dengan menghadirkan narasumber Dr. Rida Hesti Ratnasari, M.Si, CRGP, seorang peneliti dan pemerhati kelompok sosial.(*)