IAIN SAS Babel Gelar International Student Conference Hadirkan Narasumber dari University of California Amerika Serikat

avatar Tong Hari
Tong Hari

94 x dilihat
IAIN SAS Babel Gelar International Student Conference Hadirkan Narasumber dari University of California Amerika Serikat
IAIN SAS Babel Gelar International Student Conference Hadirkan Narasumber dari University of California Amerika Serikat

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung menyelenggarakan International Student Conference pada kegiatan Sedulang International Festival (SeIFa) dalam Rangka Milad IAIN SAS Babel ke 21 Tahun 2025 dengan mengusung tema "Harmony in Creation”, di Aula Gedung Terpadu, Senin, 27/10/2025.

Acara yang digelar secara hibrid ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni Prof. Muhamad Ali, Ph.D dari University of California, Riverside Amerika Serikat, dan Prof. Zulkifli, MA., Ph.D, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  Meskipun acara ini berlangsung secara daring dan luring, antusiasme mahasiswa tetap tinggi.

Rektor IAIN SAS Babel Dr. Irawan, M.S.I menyampaikan terima kasih kepada kedua narasumber. Rektor mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak agama, suku, bahasa, adat-istiadat, namun masyarakatnya hidup damai, rukun, dan saling menghormati. Kehidupan beragama yang damai di Indonesia bisa menjadi contoh bagi masyarakat dunia.

Selanjutnya, Prof. Zulkifli, MA., Ph.D Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan Sistem Kebudayaan Melayu, Islam Moderat, dan Perdamaian Berkelanjutan: Kontinuitas dan Tantangan Lintasan Peradaban Melayu. Zulkifli menambahkan, awal adat dan syarak hingga ekspresi wasatiyah kontemporernya menunjukkan bahwa perdamaian dan moderasi bukanlah sifat-sifat yang kebetulan melainkan logika dasar identitas Melayu.

Berakar pada epistemologi budi (kecerdasan moral), dunia Melayu secara historis telah mengubah Islam menjadi etika keseimbangan, harmoni, dan keadilan sosial yang hidup. Islam telah menjadi tatanan moral yang menyatukan hukum, spiritualitas, dan estetika menjadi satu sistem perdamaian yang kohesif, ujarnya.

Ia juga menyampaikan di era global, sistem budaya Melayu menawarkan paradigma universal perdamaian berkelanjutan, bukan sebagai ketiadaan konflik melainkan sebagai harmoni moral atau sikap, institusi, dan struktur yang membangun dan memelihara masyarakat yang damai.

Sintesisnya antara intelek dan kasih sayang, tradisi dan reformasi, spiritualitas dan hukum menunjukkan bagaimana sebuah peradaban dapat tetap setia pada wahyu sekaligus merangkul keberagaman.(*)