IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung Dr. Ahmad Fadholi, M.S.I, Reno Ismanto, Lc., MIRKH dan Priyanggo Karunia Rahman, M.M.S.I. mengadakan pelatihan Ilmu Falak Dasar dan Metode Pengukuran Arah Kiblat, di Gedung PLHUT Kemenag Belitung, Senin,16/12/2024.
Pelatihan ini juga dihadiri oleh Plt. Kepala Kemenag Belitung, Suyanto,S.Ag yang dalam sambutannya mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Tim Pengabdian IAIN SAS Babel dalam meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilan para penghulu serta pengurus masjid di wilayah tersebut.
"Kami sangat menyambut baik kegiatan ini, karena ilmu falak merupakan aspek penting dalam kegiatan keagamaan yang perlu dikuasai oleh semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan masjid dan kegiatan ibadah, apalagi kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Pulau Belitung" ujar Suyanto.
Sebagai narasumber utama, Ahmad Fadholi, seorang pakar di bidang ilmu falak, memberikan pemaparan mendalam mengenai dasar-dasar ilmu falak, serta pentingnya metode pengukuran arah kiblat yang tepat.
Dalam materinya, Ahmad menjelaskan berbagai metode yang dapat digunakan untuk mengukur arah kiblat dengan menggunakan teknologi modern yang dapat diakses oleh masyarakat umum, termasuk alat-alat yang mudah digunakan di lapangan. Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang memungkinkan masyarakat mengakses informasi akurat dengan lebih mudah.
Selain Ahmad Fadholi, anggota tim pengabdian lainnya, Priyanggo Karunia Rahman, turut berperan dalam menjelaskan teknologi terkini yang dapat membantu dalam pengukuran arah kiblat, seperti aplikasi mobile dan perangkat GPS.
"Dengan teknologi yang ada saat ini, pengukuran arah kiblat tidak lagi menjadi tantangan, bahkan masyarakat dapat dengan mudah melakukannya sendiri," ujar Priyanggo dalam sesi diskusinya.
Keberagaman peserta ini menunjukkan pentingnya sinergi antar berbagai organisasi dan masyarakat dalam menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam, terutama dalam hal penentuan arah kiblat.
Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, dengan sesi teori dan praktek yang melibatkan simulasi pengukuran arah kiblat menggunakan berbagai perangkat. Para peserta diberi kesempatan untuk langsung mempraktikkan pengukuran arah kiblat menggunakan kompas dan aplikasi digital yang telah disiapkan panitia.
Diharapkan, dengan pelatihan ini, para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk kepentingan umat, baik dalam konteks ibadah pribadi maupun dalam pengelolaan masjid.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta, terutama dari para pengurus masjid dan penghulu, yang sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan merasa terbantu dengan pengetahuan yang diperoleh.
Salah satu peserta, Yulius Tinadar, mengungkapkan, "Pelatihan ini sangat bermanfaat, karena sebelumnya kami sering menemui kendala dalam pengukuran arah kiblat, tetapi sekarang kami mendapatkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan langsung di lapangan."
Reno Ismanto, sebagai Ketua Tim Pengabdian, berharap bahwa pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta, tetapi juga dapat memperkuat hubungan antar lembaga keagamaan dan masyarakat di wilayah Belitung dan Belitung Timur.
"Kami berharap dengan adanya pelatihan ini, para peserta dapat menjadi lebih cakap dalam menjalankan tugas mereka, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, terutama dalam hal pengelolaan masjid dan ibadah umat Islam," ujarnya.
Pelatihan Ilmu Falak Dasar dan Metode Pengukuran Arah Kiblat ini merupakan bagian dari komitmen IAIN SAS Babel untuk terus berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang keagamaan.
Tim Pengabdian berharap, kegiatan serupa dapat dilaksanakan di masa mendatang untuk lebih memperluas jangkauan dan dampaknya bagi umat Islam di wilayah Bangka Belitung.
Peserta pelatihan di hadiri berasal dari berbagai organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan di wilayah Belitung dan Belitung Timur, di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Penghulu, Bimas Islam, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), serta sejumlah tokoh masyarakat Belitung.(*)