Hadir Wisuda IAIN SAS Babel, Sekretaris Ditjen Pendis Kemenag Sampaikan Spirit Moderasi Beragama Menuju Islam Rahmatan Li’alamin

avatar Tong Hari
Tong Hari

196 x dilihat
Hadir Wisuda IAIN SAS Babel, Sekretaris Ditjen Pendis Kemenag Sampaikan Spirit Moderasi Beragama Menuju Islam Rahmatan Li’alamin
Rektor IAIN SAS Babel Dr.Irawan,M.S.I Menyerahkan Cendramata Kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd,


IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd, memberikan orasi ilmiah sekaligus menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke- 20 dan Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel). Prosesi Wisuda berlangsung pada Kamis, 4 Juli 2024 di Asrama Haji Provinsi Kep. Bangka Belitung.

Wisuda ke 20 ini mengambil tema “ Spirit Moderasi Beragama sebagai Modal Kapital Pembangunan Rahmatan Lil 'Alamin”.

Dalam orasi ilmiah di hadapan para wisudawan, Rohmat Mulyana Sapdi sebelum memasuki inti orasi, tentunya saya ingin mengucapkan selamat kepada para Wisudawan-Wisudawati yang pada hari ini, 4 Juli 2024 kalian semua sudah diwisuda dan dinyatakan sebagai lulusan IAIN SAS Babel. Semoga ilmu yang telah diraih dapat bermanfaat dan menjadi bekal dalam meniti karier dimasa yang akan datang.

Untuk itu, Prof  Rohmat Mulyana Sapdi Moderasi Beragama adalah antitesis atas kekhawatiran perkembangan diskursus keagamaan ekstrem di tengah masyarakat selama dasarwarsa terakhir ini. Diskursus tersebut memiliki relevansi dengan maraknya aksi ektremisme berbasis agama dan berujung pada aksi kekerasan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Kekerasan itu dapat berwujud verbal maupun nonverbal. Pada gilirannya, Islam yang muncul ke permukaan adalah Islam yang marah bukan Islam yang ramah, dan yang memberi rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil‘alamin).

Lembaga pendidikan tinggi, saya kira, memiliki peranan penting dalam upaya desiminasi dan penanaman nilai Moderasi Beragama. PTKI merupakan tempat yang paling strategis dan efektif untuk menanamkan nilai-nilai moderasi kepada civitas akademika kampus dan juga kepada masyarakat.

PTKI yang menampung lebih dari 1,3 juta mahasiswa diyakini dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan pemikiran keagamaan yang moderat. Masa kuliah yang cukup panjang di PTKI memungkinkan mahasiswa untuk memperdalam paham keagamaan yang wasathiyah dari para dosennya.

Pertama, pembelajaran moderasi beragama, saya kira, perlu diintegrasikan ke dalam semua mata kuliah atau mata pelajaran,terutama pada rumpun mata mata kuliah/pelajaran dirasah Islamiyah yang meliputi Al-Quran dan Hadits, Fikih, atau Akidah Akhlak atauTasawuf, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). 

Cara ini disebut insersi (penyisipan) Moderasi Beragama ke dalam setiap materi yang relevan.Untuk dapat melakukan hal ini tentunya dibutuhkan usaha yang lebih serius karena kurikulum dan perangkat pembelajarannya juga harus diintegrasikan.

Kedua, perlu mengoptimalkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang mampu melahirkan karakter atau tradisi berfikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang lain, toleran,

demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif, menginspirasi dan bertanggung jawab. Dengan kata lain para pendidik perlu mencarikan cara, metode, atau pendekatan yang paling cocok dalam menanamkan nilai Moderasi Beragama kepada pembelajar.

Ketiga, seiring dengan berlakunya Kurikulum Merdeka, para pendidik perlu mengembangkan tradisi belajar tuntas di setiap kajian atau pembelajaran apapun mata kuliah atau mata pelajaran yang diajarkan.Adalah tidak penting bagi peserta didik untuk menguasai banyak materi, sebab tradisi belajar tuntas dilakukan untuk melahirkan para peserta didik dengan karakter pembelajar.

Di akhir orasi ilmiahnya, Prof  Rohmat Mulyana Sapdi perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan Moderasi Beragama secara terstruktur kepada masyarakatluas yangmelibatkan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi. Di sinilah perlunya peran rumah Moderasi Beragama yang didirikan di setiap PTKIN di Indonesia.(*)

Penulis : Ayaknan