Kunjungan Mahasiswa Pencinta Alam Kopassas IAIN SAS Babel : Belajar Melestarikan Budaya dari Senai, Sang Maestro Kulit Kayu

avatar Tong Hari
Tong Hari

79 x dilihat
Kunjungan Mahasiswa Pencinta Alam Kopassas IAIN SAS Babel : Belajar Melestarikan Budaya dari Senai, Sang Maestro Kulit Kayu
Kunjungan Mahasiswa Pencinta Alam Kopassas IAIN SAS Babel : Belajar Melestarikan Budaya dari Senai, Sang Maestro Kulit Kayu


IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.Mahasiswa pencinta alam dari Kopassas IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung belum lama ini mengadakan kunjungan yang Istimewa ke Dusun Peraceh, Desa Air Menduyung, untuk bertemu dengan seorang tokoh yang inspiratif yaitu Senai seorang seniman kerajinan kulit kayu yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan budaya lokal.Rabu,6/8/2025.

Pada usianya yang ke-69 tahun, Senai masih sangat bersemangat. Ia bercerita bahwa kecintaannya pada kerajinan ini dimulai sejak tahun 1995. Saat itu, ia mulai membuat berbagai pakaian dan aksesori, seperti topi dan baju, dari kulit kayu Jeluteh. Ini bukan sekadar kerajinan biasa, melainkan warisan berharga dari nenek moyang suku Jering yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Motivasi Senai sangatlah mulia: ia ingin melestarikan warisan budaya yang nyaris punah. Sebagaimana ia ungkapkan dalam bahasa Jering, "Ko nek melestarikan budaye nok dayuk lah ade," yang artinya, "Saya mau melestarikan budaya yang dulu sudah ada."

Tekad ini mendorongnya untuk terus berkarya. Hasil karyanya bahkan pernah dibawa hingga ke Lubuk Linggau pada tahun 2000 dan Jakarta untuk menunjukkan betapa berharganya kerajinan ini.

Tak hanya piawai dalam membuat kerajinan kulit kayu, Senai juga seorang seniman multi-talenta. Pada tahun 1995, ia mendirikan sebuah sanggar untuk kerajinan dan alat musik tradisional, salah satunya gambus. Ia sendiri telah belajar memainkan alat musik gambus sejak berusia 12 tahun. Hal ini membuktikan bahwa semangatnya untuk melestarikan budaya tidak hanya terbatas pada satu bidang saja.

Di akhir pertemuannya, Senai menyampaikan pesan yang kuat kepada para mahasiswa dan generasi muda. Ia mengajak semua orang untuk ikut serta melestarikan budaya ini. Kisah Senai menjadi pengingat bagi kita semua bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab bersama, dan semangatnya adalah api yang harus terus kita nyalakan.

Ketum KOPASSAS Adika cipta Setiawan sangat mengapresiasi hasil kerajinan ini karena tidak hanya memiliki nilai estetika, kerajinan ini juga menggunakan pemanfaatan sumber daya alam yang kreatif dan berwawasan lingkungan

Tekstur dan warna alami kulit kayu memberikan kesan unik yang tidak bisa ditemukan pada bahan buatan. Selain itu, proses pembuatannya juga melibatkan keterampilan tangan yang tinggi, menunjukkan dedikasi dan ketelitian pengrajin. Kerajinan ini juga memiliki potensi ekonomi yang baik dan layak untuk terus dikembangkan serta dilestarikan.(*)