IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung di Desa Desa Kebintik melakukan kunjungan ke pabrik Tahu dan Tauco di dusun Kebintik milik pasangan Evi dan Abun.
Adanya kunjungan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa terhadap proses pembuatan tahu dan Tauco serta menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan potensi UMKM yang ada di daerah tersebut. Senin (28/07/2025
Al qory, mahasiswa KKN IAIN SAS Babel mengungkapkan, "Kunjungan ini adalah bentuk nyata kolaborasi antara dunia akademik dan dunia perindustrian atau UMKM masyarakat.
Ia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat terutama bagi kami selaku mahasiswa untuk dapat terus belajar mengenai dunia bisnis dan khususnya memberi manfaat bagi para pemilik UMKM untuk terus semangat dalam mengembangkan usaha yang dimilikinya serta bisa menginspirasi banyak orang agar dapat termotivasi untuk memajukan dunia pangan Indonesia di era digitalisasi saat ini.
Para mahasiswa mendengar cerita perjalanan usaha ini pabrik ini telah berdiri selama 20 tahun dan menjadi salah satu UMKM yang memproduksi kembang tahu khas Tionghoa secara tradisional namun tetap menjaga kualitas dan cita rasa.
Proses produksi dimulai sejak pukul 4 pagi, dimulai dari pencucian kacang kedelai, penggilingan, pemerasan sari, hingga proses pengeringan menggunakan pipa uap panas. Hasilnya adalah kembang tahu murni tanpa bahan pengawet yang dikemas dalam plastik seberat 1 ons dan dijual seharga Rp10.000.
Dengan tenaga kerja sebanyak empat orang dari luar daerah seperti Jawa dan Lampung, pabrik ini terus berinovasi dari awalnya menggunakan api kayu bakar dan satu cetakan, hingga kini mampu memproduksi dalam jumlah besar menggunakan mesin modern.
Meski perjalanan bisnis ini tidak selalu mulus, Evi dan Abun menekankan pentingnya mental yang kuat dan tekad pantang menyerah dalam menjalankan usaha. “Berbisnis itu tidak cukup hanya bermodalkan uang. Mental yang kuat adalah kunci,” ujar Evi.
Selain kembang tahu, pabrik ini juga memproduksi Tauco yang sudah tersebar hingga 90% wilayah Bangka, dengan permintaan tertinggi berasal dari wilayah Belinyu. Dalam sebulan, produksi Tauco bisa mencapai satu ton.
Proses pembuatannya pun memakan waktu satu bulan, dimulai dari fermentasi kacang kedelai dalam drum, dicampur dengan garam dan gula, lalu dijemur di bawah terik matahari tanpa terkena air hingga menghasilkan aroma khas. Bagian atas kacang hasil fermentasi dibuang dan hanya bagian dalamnya yang digunakan untuk menghasilkan Tauco berkualitas.
Meski berada di tengah era digital, pemilik usaha ini memilih tidak terlalu mengandalkan media sosial dalam strategi pemasarannya. Mereka mengandalkan loyalitas pelanggan lama dan kekuatan dari promosi mulut ke mulut. “Kami lebih banyak dicari pelanggan daripada mencari pelanggan,” tambah Abun.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN IAIN SAS Babel berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam pengembangan usaha lokal, terutama dengan mengenalkan potensi digitalisasi untuk memperluas jangkauan pasar UMKM tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi kekuatan utama.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap UMKM lokal sebagai pilar ekonomi desa, sekaligus menjadi ajang pembelajaran langsung dari para pelaku usaha tangguh yang telah membuktikan eksistensinya selama puluhan tahun.(*)