IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan Kependidikan (PPLK) Fakultas Tarbiyah (FTAR) Insitut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel) menggelar kegiatan Workshop Stop Bullying yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Koba, Kamis (4/9/2024).
Workshop dengan tema "Sayangi sesama, Mari bersaudara, Stop bullying dan Cyber bullying". Diikuti oleh perwakilan kelas 8 SMP 2 Koba.
Kepala Sekolah SMPN 2 Koba Nur Aisyah, S.Pd mengatakan workshop ini juga didukung penuh oleh pihak sekolah. agar dapat membawa perubahan yang lebih baik lagi,melalui pelaksanaan workshop Stop Bullying kepada siswa. Ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan kasus bullying yang terjadi dilingkungan sekolah agar anak-anak merasa nyaman dan belajar dengan aman ketika di sekolah" . Melalui workshop ini, anak akan mendapatkan pengetahuan untuk mengendalikan diri agar tidak melakukan bullying terhadap orang lain, baik di sekolah maupun di rumah Ujar Aisyah
Ellin Fahdilah Mahasiswa PPLK mengatakan Workshop ini diadakan dengan dilatar belakangi oleh maraknya kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah yang menyebabkan anak putus sekolah.
Workshop tersebut diawali dengan nonton bersama film "budi pekerti" yang mengandung kisah tentang cyber bullying,kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi dari Eli Mustika
Eli Mustika dalam paparannya "Bullying merupakan perilaku yang tidak baik karena dapat memberikan efek buruk bagi orang lain. Para siswa juga harus bijak dalam menggunakan media sosial agar perilaku cyber bullying tidak terjadi dalam lingkungan pelajar.
Siswa juga harus menyayangi sesama dan saling peduli agar terciptanya rasa persaudaraan sesuai dengan tema yang diusung". Ujar Eli Mustika
Selain itu rekan-rekan PPLK SMPN 2 Koba juga membuat kreasi poster bingkai dengan gambar anak yang saling bergandengan tangan yang bertuliskan stop bullying agar para siswa menjadi tertarik dalam mencegah perilaku bullying.
Desti siswa kelas 8, "film yang kita tonton tadi dapat saya simpulkan bahwa kita dilarang untuk menyebarkan berita hoax dan memberikan komentar yang buruk dimedia sosial agar kita tidak merusak mental seseorang". Ujar Desti.(*)