IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Mahasiswa kelas Psikologi Islam 6B IAIN SAS Bangka Belitung melaksanakan kunjungan lapangan ke kawasan wisata Taman Hijau pada Selasa pagi 5 Mei 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengembangan Masyarakat Islam yang bertujuan mengkaji praktik pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Taman Hijau yang berlokasi di Gang Hayati, Kace Timur ini memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal luas publik. Lahan seluas kurang lebih 73 hektare yang telah ada sejak tahun 1998 awalnya hanya dimanfaatkan secara terbatas, bahkan pada era 2000-an lebih dikenal sebagai lokasi foto prewedding. Popularitasnya mulai meningkat pada tahun 2022 setelah banyak anak muda mengunjungi dan membagikan keindahannya melalui media sosial. Hingga akhirnya, kawasan ini resmi dibuka sebagai destinasi wisata pada tahun 2023.
Perubahan signifikan terjadi setelah adanya inisiatif pengelolaan oleh pihak yang berani mengembangkan potensi lahan tersebut. Nama kawasan yang semula dikenal sebagai SEPANA kemudian berganti menjadi Rumput Hijau, hingga kini resmi dikenal sebagai Taman Hijau. Di balik pengelolaannya, terdapat komitmen kuat untuk menjadikan tempat ini tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat.

“Taman ini bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga ruang tumbuh bagi masyarakat sekitar. Banyak anak muda yang sebelumnya putus sekolah kini bisa bekerja di sini, ibu-ibu juga diberdayakan melalui UMKM, bahkan muncul usaha kecil seperti kafe jus keliling,” ungkap Pak Feby, perwakilan sekaligus penjaga Taman Hijau.
Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan dilakukan secara mandiri dengan berbagai keterbatasan. “Kalau saya di sini merangkap semua, mulai dari jaga malam sampai bantu operasional lainnya. Tapi kami tetap berkomitmen menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung, termasuk dengan pemasangan CCTV di berbagai titik,” ujarnya.
Saat ini, Taman Hijau terus berbenah dengan berbagai rencana pembangunan seperti mushola, panggung, serta infrastruktur pendukung lainnya. Dengan biaya pembangunan yang telah mencapai lebih dari Rp200 juta, pengelolaan dana dilakukan secara swadaya dari pemasukan tiket kendaraan bermotor sebesar Rp5.000, dengan omzet mingguan yang dilaporkan melebihi Rp10 juta. Dana tersebut digunakan untuk pemeliharaan, pembangunan, serta perbaikan fasilitas.
Dosen pengampu mata kuliah, Pebri Yanasari, menilai Taman Hijau sebagai contoh nyata pengembangan masyarakat berbasis potensi lokal yang patut diapresiasi.
“Ini adalah praktik nyata dari konsep pengembangan masyarakat Islam, di mana potensi lokal dioptimalkan untuk kesejahteraan bersama. Yang menarik, pengelolaan di sini tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga sosial memberdayakan masyarakat, membuka lapangan kerja, dan membangun rasa kepemilikan bersama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap mahasiswa mampu melihat langsung dinamika sosial yang terjadi di lapangan. “Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di kelas. Mereka perlu turun langsung, melihat, menganalisis, dan belajar dari realitas seperti yang ada di Taman Hijau ini,” tambahnya.
Kehadiran mahasiswa disambut baik oleh masyarakat dan pengelola. Dukungan lingkungan sekitar terhadap keberadaan Taman Hijau juga terbilang positif dan terbuka.
Dengan promosi yang berkembang secara organik melalui media sosial, Taman Hijau kini semakin dikenal luas. Harapan besar pun disematkan agar destinasi ini dapat menjadi salah satu ikon wisata di Bangka Belitung yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kuat dalam nilai pemberdayaan masyarakat.
Kunjungan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar kontekstual bagi mahasiswa, sekaligus menjadi inspirasi dalam mengembangkan program-program sosial yang berdampak nyata di tengah masyarakat.(*)