Mengungkap Makna Budaya: Mahasiswa IAIN SAS Babel Paparkan Riset Beras Kunyit di Konferensi Nasional Psikologi

avatar Tong Hari
Tong Hari

135 x dilihat
Mengungkap Makna Budaya: Mahasiswa IAIN SAS Babel Paparkan Riset Beras Kunyit di Konferensi Nasional Psikologi
Silfana Rosa, Mahasiswa IAIN SAS Bangka Belitung Paparkan Riset Beras Kunyit di Konferensi Nasional Psikologi

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam (PI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam(FDKI), IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung, Silfana Rosa, sukses mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul "Makna Simbol Beras Kunyit pada Perayaan Pesta Panggil sebagai Representasi Sosial Masyarakat Desa Kacung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung" pada kegiatan Call for Papers Dies Natalis ke-26 Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Secara daring, 2/9/2025.

Forum ilmiah ini diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia dengan berbagai sub-topik seperti Psikologi dan Teknologi, Psikologi dan Pendidikan, Psikologi dan Masyarakat.

Presentasi ini dilakukan secara daring sebagai diseminasi lanjutan dari skripsinya. Dalam forum ilmiah tersebut, Silfana berhasil menarik perhatian peserta dengan risetnya yang mengangkat sub-tema Psikologi dan Masyarakat. Ia menjadi salah satu dari 20 peserta yang memaparkan hasil penelitiannya dalam sesi yang berbeda.

Pada presentasinya, Silfana menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada representasi sosial atas simbol beras kunyit dalam perayaan Pesta Panggil, sebuah tradisi turun-temurun di Desa Kacung. Manusia sebagai homo symbolism memiliki cara unik dalam merayakan adat, dan beras kunyit menjadi simbol penting yang merepresentasikan perilaku sosial.Ujarnya

Dengan menggunakan analisis tematik Clark & Braunn, Silfana menunjukkan bahwa beras kunyit memiliki makna yang mendalam, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur, penolak bala, dan bentuk penghormatan bagi santri dan santriwati yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.

Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi representasi sosial yang memperkuat kebersamaan dan identitas budaya masyarakat setempat, sebuah representasi yang hidup dalam denyut kehidupan menyehari masyarakat Kacung.

Publikasi riset ini membawa dampak positif yang luas. Bagi masyarakat, penelitian ini membantu memperkuat identitas budaya dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan tradisi Pesta Panggil sebagai warisan budaya lokal. Pemahaman yang lebih dalam tentang makna simbolisme ini dapat memicu generasi muda untuk bangga dan terus merawat warisan nenek moyang mereka.

Sementara itu, bagi IAIN SAS Bangka Belitung, presentasi ini menjadi bukti nyata komitmen institusi dalam menghasilkan riset berkualitas yang relevan dengan dinamika sosial dan budaya masyarakat.

Publikasi di kancah nasional ini juga meningkatkan reputasi akademik institusi, menunjukkan bahwa IAIN SAS mampu bersaing dan berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology). Hal ini juga sejalan dengan misi Kementerian Agama RI dalam memperkuat moderasi beragama dan pelestarian budaya lokal.

Dengan memahami tradisi seperti Pesta Panggil yang memiliki nilai-nilai keagamaan dan sosial yang kuat, Kementerian Agama dapat mengembangkan program yang lebih tepat sasaran untuk memelihara harmoni dan toleransi di masyarakat.

Silfana Rosa sendiri merasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan. "Kesempatan ini memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk 'ikut rembuk' dalam suatu percakapan keilmuan di lingkaran akademis. Ini merupakan kesempatan berharga yang diberikan oleh program studi," ungkapnya.

Publikasi ini tidak hanya menjadi capaian personal bagi Silfana, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika IAIN SAS Bangka Belitung untuk terus berkarya dan menghasilkan riset yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas

Oktarizal Drianus, M.Psi., selaku pembimbing Silfana, menyampaikan apresiasinya. "Psikologi Ulayat adalah salah satu bidang yang menjembatani psikologi dan dinamika sosial lintas budaya. Riset ini menunjukkan bagaimana representasi social pengetahuan biasa sehari-hari dapat dikaji secara mendalam. Ini adalah langkah penting dalam memperkaya wawasan psikologi kita," ujarnya.(*)