Sawi Manis Siap Panen: KKN Ketahanan Pangan IAIN SAS Babel Bersama Lanal Babel Budidaya Hidroponik di Pinggir Pantai

avatar Tong Hari
Tong Hari

56 x dilihat
Sawi Manis Siap Panen: KKN Ketahanan Pangan IAIN SAS Babel Bersama Lanal Babel Budidaya Hidroponik di Pinggir Pantai
Sawi Manis Siap Panen: KKN Ketahanan Pangan IAIN SAS Babel Bersama Lanal Babel Budidaya Hidroponik di Pinggir Pantai

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Ketahanan Pangan IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berhasil membudidayakan sawi manis melalui sistem hidroponik bersama Lanal Babel. Proyek ini menjadi wujud nyata komitmen untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis teknologi pertanian berkelanjutan, terutama di wilayah pesisir.

Naufal Perwakilan Mahasiswa IAIN SAS Babel Proses budidaya dimulai dengan pembibitan yang dilakukan sekitar 27 hari lalu. Bibit sawi manis disemai di media rockwool dan dipindahkan ke instalasi hidroponik setelah mencapai usia 7 hingga 10 hari.

Mahasiswa menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT), di mana akar tanaman tumbuh dalam aliran tipis larutan nutrisi sehingga penyerapannya optimal. Pengaturan jarak tanam menggunakan pipa paralon 2 inci dengan spasi antar tanaman sekitar 20 cm, dirancang khusus agar pertumbuhan daun maksimal dan persaingan akar diminimalkan.Imbuhnya

Ia mengatakan Larutan nutrisi yang digunakan adalah AB Mix untuk sayuran daun dengan target EC antara 1,6 hingga 2,0 mS/cm dan pH di kisaran 5,5 hingga 6,5—rentang yang dikenal optimal untuk pertumbuhan sawi. Setiap hari, tim melakukan pemantauan pH, suhu, dan kualitas larutan, sambil memastikan tanaman mendapatkan pencahayaan minimal enam jam per hari serta menjaga sanitasi instalasi untuk mencegah hama dan penyakit.Ujarnya

Setelah hampir tiga minggu masa budidaya, tanaman sawi manis sudah menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik: daun lebat berwarna hijau segar dan batang kokoh. Panen pun dilaksanakan secara hati-hati agar kualitas hasil tetap prima. Hasil panen kemudian didistribusikan kepada warga sekitar sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan lokal.

Kolaborasi antara mahasiswa dan Lanal Babel memberikan manfaat ganda: mahasiswa memperoleh akses lahan dan air bersih, sementara Lanal mendukung aspek keamanan dan operasional kegiatan. Seperti disampaikan oleh Naufal, salah satu mahasiswa pelaksana KKN, lokasi yang strategis dan dukungan lembaga membuat kegiatan berjalan lancar tanpa kendala serius.

Melalui kolaborasi ini, terbukti bahwa sinergi antara institusi akademik dan militer dapat menghasilkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, khususnya bagi komunitas pesisir seperti Bangka Belitung. Proyek hidroponik sawi manis ini bukan hanya memberikan hasil panen, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pertanian modern yang dapat direplikasi di desa-desa pesisir lainnya.(*)