IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Barangsiapa mau menjadi guru biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain, dan biarkan dia mengajar dengan teladan sebelum mengajar dengan kata-kata. Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan memperbetulkan perbuatan-perbuatannya sendiri lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan daripada mereka yang hanya mengajar orang lain dan memperbetulkan perbuatan-perbuatan orang lain. (Kahlil Gibran: 1883).
Munif Chotib (2011: 56-57) menjelaskan bahwa guru menurut motivasinya terbagi menjadi tiga tipe. Pertama, guru tipe robot yang hanya masuk kelas, mengajar lalu pulang. Peduli hanya pada materi yang harus disampaikan, tidak memiliki kepedulian terhadap kesulitan siswa apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Hanya menjalankan perintah sesuai program yang disusun. Ungkapan yang sering digunakan seperti, “wah, itu bukan masalahku, bukan urusanku, silahkan selesaikan saja”, atau maaf, saya tidak dapat membantu karena bukan tugas saya …”.
Kedua, guru materialistis; guru jenis ini memiliki konsep semua yang dilakukan serba hitung-hitungan secara kuantitatif. Masuk tepat waktu dan pulang tepat waktu, tidak mengindahkan kreativitas waktu untuk mengembangkan potensi peserta didik di luar jam kewajibannya sebagai pegawai. Seharusnya seorang guru tidak hanya hadir secara fisik (Materialitas fisik) akan tetapi harus mencakup secara emosional dan metodologis. Menekankan bahwa setiap peserta didik adalah penting dan menjadi bintang. Sehingga guru harus mampu mengakomodasi kebutuhan sekolah, peserta didik, sesama guru dan lingkungan sekolah di luar jam kerjanya.
Lebih dari itu bahwa seorang guru dapat menghadirkan setiap jiwa raganya untuk kemajuan dan perkembangan sekolah, pendidikan dan pembelajaran. Menyampaikan serta memfasilitasinya dalam bentuk konkrit dan bermakna bagi semuanya tanpa ada konsep hitungan secara kuantitatif kinerja. Sejatinya guru harus humanis, mengutamakan pendekatan emosional dan psikologis dalam pendidikan dan pembelajaran. Menjalin hubungan baik dengan siswa untuk membangun lingkungan belajar yang nyaman. Serta menyadari pentingnya membentuk karakter, bukan sekadar mengajarkan materi.
Ketiga, gurunya manusia; inilah makna guru sesungguhnya tidak hanya sekedar menjadi pengajar. Namun semaksimal mungkin dapat menjadi fasilitator, pembimbing sekaligus inspirator yang senantiasa membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Beberapa karakter untuk menjadi gurunya manusia diantaranya; 1) Guru yang menghargai keunikan siswanya. Hal ini dikarenakan bahwa setiap peserta didik memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda sebagaimana Howard Gardner tegaskan dengan istilah multiple intelligences. Lalu objektivitas seorang guru dituntut dalam menilai secara holistik.
2) Guru dapat membantu peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Bahwa pendidikan tidak hanya terkait akademik saja, namun lebih utama adalah membentuk karakter, empati dan keterampilan hidup, sehingga pola akademiknya adalah mendidik dengan hati bukan hanya target kurikulum semata.
3) Guru yang mengkonstruk hubungan emosional dengan peserta didik; bahwa kehadiran guru harus seutuhnya secara emosional tidak hanya fisiknya saja. Membangun hubungan baik antar guru, siswa serta sedapat mungkin menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan.
4) Guru memiliki prinsip tentang peserta didik; bahwa setiap anak didik adalah bintang karena mereka semua memiliki potensi unik yang perlu ditemukan dan dikembangkan. Sekolah adalah tempat yang menyenangkan bahwa pembelajaran harus inovatif, kreatif, menarik, menyenangkan, bahagia dan berbobot. Dan yang terpenting adalah bahwa guru adalah arsitek perubahan, dimana guru harus terus belajar, berinovasi, teknologi, meneliti dan menciptakan produk-produk pembelajaran.
Singkatnya bahwa gurunya manusia, tentu ia adalah seorang guru yang mengajar dengan hati, menghargai keberagaman kecerdasan dan kemampuan peserta didik, membantu potensinya sehingga menjadi pribadi yang berkembang secara maksimal. Prinsip pokok dalam mengajar dan menjadi guru professional adalah dapat memahami bahwa pendidikan adalah tentang membentuk manusia seutuhnya, bukan sekedar mengisi otak dengan ragam teori.
Menjadi kepala sekolah adalah sebuah amanah yang harus disanggupi dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Tanggung jawab menjadi seorang pemimpin atas siapa saja dan apapun merupakan pengejewantahan dan aktualisasi dari nilai-nilai propetik. Dalam konsep agama propetik tersebut memiliki paling tidak “tiga nilai sebagai landasan ideal” (Kuntowijoyo,1996).
Pertama, Humanisasi, bagaimana memanusiakan manusia. Maka seorang guru bahkan kepala sekolah harus mampu menjunjung tinggi harkat dan martabat peserta didik, sesama guru, pegawai dan setiap warga sekolah. Dalam konteks pembelajaran, humanisasi dapat di maknai bahwa kegiatan pendidikan, belajar mengajar ditujukan untuk mengembangkan segala potensi siswa sebagai manusia seutuhnya, manusia paripurna. Sehingga dapat bekembang menuju arah kesempurnaan.
Perannya adalah menghindarkan penekanan kepada para siswa, menerima keberadaan mereka tanpa diskriminatif, mengapresiasi segala kelebihan dan kekurangannya bahkan antar sesama warga sekolah. (Pratiwi & Usriyah, 2020). Hasil dari implementasi humanisasi ini akan berdampak positif dan terbentuk pada diri masing-masing guru, pegawai, dan para peserta didik sehingga mereka dapat saling menghargai pendapat, ide, masukan serta saling menghormati
Kedua, Liberasi mengutip (Kuntowijoyo, 1996) sebagai bahasa Ilmu dari konsep anNahyu ‘anil Munkar. Secara istilah kemudian dimaknai sebagai pembebasan atau membebaskan seseorang dari kendali orang lain. Maknanya bahwa dalam proses pendidikan dan pembelajaran dimana masing-masing memiliki posisi yang sama dalam transmisi pengetahuan. Guru dapat melakukakn tugasnya semaksimal mungkin dan siswa dapat menerima pengetahuan semaksimal mungkin pula. Maka akan muncul sikap saling menghargai, menghormati dan kepatuhan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Ketiga, Transendensi, yaitu mengimani Tuhan yang maha kuasa. Bahwa siapapun yang melaksanakan nilai-nilai propetik menurut keimanannya maka ia akan mulya dan terdidik di hadapan manusia dan Tuhannya. Dalam perspektif dunia pendidikan, transendensi harus tumbuh dalam diri individu peserta didik. Sehingga akan menjadi karakter yang humanis bagi peserta didik. Beberapa karakter yang tumbuh seperti jujur, disiplin, mandiri, tanggung jawab dan religius.
Diskursus tentang integritas merupakan cerminan diri seorang dalam bersikap secara konsisten, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, moralitas dan keselarasan antara ucapan dan perbuatan khususnya dalam proses pendidikan dan pengajaran. Menjadi guru secara professional dan berintegritas adalah sebuah tuntutan etika profesi yang sangat mulia. Beberapa indikatornya seperti bersikap jujur dan dapat dipercaya, bertindak transparan dan konsiseten, menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela, bertanggung jawab atas hasil kerja, serta bersikap objektif.
Beberapa aspek inilah apa yang telah dilakukan di SMA Negeri 4 Pangkalpinang. Beragam upaya, inovasi dan komunikasi dirajut, disulam, dirangkai dan dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan pembelajaran yang bermartabat. Membangun pribadi-pribadi yang memiliki integritas melalui pendidikan, proses pengajaran, pelatihan, seminar baik lokal dan nasional, workshop, outbond dan program-program peningkatan kualitas secara gradual. Telah banyak prestasi yang diraih; prestasi sekolah, kepala sekolah, para guru, peserta didik di kancah nasional.
Semua ini merupakan dedikasi yang diabdikan kepada nusa dan bangsa tercinta. Selain sebagai kepala sekolah SMA Negeri 4 Pangkalpinang, saat ini masih menjadi mahasiswa program Pasca Sarjana (S2) di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik menyelesaikan tugas akhir tesis. Belajar tanpa henti dan batas usia menjadi prioritas utama untuk membangun kualitas diri, potensi, dan profesionalisme.
Memberi contoh dan menjadi contoh untuk semua, bahwa ilmu sangat berharga yang tak ternilai harganya. Menjadi orang berilmu adalah menjadi orang yang mulia dan berharga. Namun jangan lupakan bahwa beradab lebih utama daripada memiliki banyak ilmu. Dengan ilmu kita bisa membuka kunci dunia.(*)
Penulis : Siti Rofiqoh, S.Pd , Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Pangkalpinang / Mahasiswa Pascasarjana IAIN SAS Bangka Belitung