IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Bagi orang yang menyakini Allah adalah Tuhannya dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan-Nya tidak asing dengan ritual yang diamalkan lima waktu dalam sehari semalam yaitu ibadah salat. Salat bukan hanya ritual ibadah semata, tapi juga sebagai jalan untuk mendapatkan ketenangan. Instrumen utama dalam meraih ketenangan dalam salat adalah dengan mengenali hakikat salat. Lantas, apa hakikat salat itu?
Dalam pandangan area hukum Islam, Syaikh Muhammad bin Qosim Al-Ghozi dalam kitabnya Fathul Qorib Al-Mujib, menerangkan definisi salat secara etimologi atau bahasa adalah panjatan permohonan. Dan secara terminologi atau istilah seperti yang telah dikemukakan oleh Imam Ar-Rofi’i, salat adalah rangkaian ibadah yang tersusun atas perkataan dan perbuatan yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam dengan syarat dan ketentuan tertentu.
Adapun pada wilayah kepengurusan hati dalam Islam, maka Syaikh Abdurrahman Siddik telah menuturkan dalam buah karyanya yaitu kitab Asrarus Sholah min ‘Iddatil Kutubi Al-Mu’tamadi, akan pendalaman salat yaitu memalingkan zahir wajah kita dari segala jihat (arah) dan menghadap ke-jihat rumah Allah (ka’bah) serta mengalihkan batin wajah kita dari setiap keterhubungan dengan seluruh makhluk. Maka, salat itu hakikatnya adalah mengarahkan wajah yang tampak pada perkara yang tampak (syahadah) dan menghadapkan wajah yang tidak tampak pada perkara yang tidak pula tampak (ghaib).
Jika menilik lebih dalam maka akan didapati hakikat salat adalah menemukan Allah dalam hati dan pikiran maksudnya mengingat Allah. Salat juga dapat dimaknai dengan mengekalkan Allah dalam hati dan pikiran tatkala sedang melaksanakan salat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku”. (Q.S. Thaha: 14).
Maka, ketika seorang mampu untuk mengekalkan Allah dalam hati dan pikiran dalam salatnya, Allah akan menjadikan hati dan pikirannya hanyut mengingat-Nya. Sehingga akan hadir ketenangan dalam jiwanya sebab hakikat ketenangan itu datangnya dari Allah ta’ala sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)”. (Q.S. Al-Fath: 4).
wallahu a’lam.
Penulis : Naufal Fawwaz Nashrullah, Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam