Fantasi Sedarah: Mitos yang Menjadi Fakta dalam Perspektif Psikologi.

avatar Tong Hari
Tong Hari

137 x dilihat
Fantasi Sedarah: Mitos yang Menjadi Fakta dalam Perspektif Psikologi.
Naufal Fawwaz Nashrullah, Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Dunia maya digegerkan dengan temuan sebuah grup dijejaring sosial Facebook yang berisi kumpulan pengguna sosial media kekerasan seksual sedarah. Ramai-ramai warganet mengalihkan fokusnya pada temuan ini dalam percakapan publik di media sosial. Dilansir dari Detik News (17 Mei 2025), meletupnya temuan ini dari postingan tangkapan layar warganet terkait percakapan grub tersebut yang isinya mengarah pada inses atau hubungan intim sedarah.

Konten kreator tiktok Saddam Permana dalam postingan terbarunya (15 Mei 2025) mengungkapkan sebanyak tiga puluh dua ribu pengguna media sosial Facebook yang tergabung sebagai anggota dari grup tersebut. Sebagai mahasiswa Pendidikan yang turut mengkaji disiplin ilmu Psikologi, memiliki urgensi tersendiri untuk dikaji lebih lanjut sebagai kajian teoritis yang melibatkan fenomena realistis.

Jika menilik fenomena tersebut mengingatkan salah satu mitos Yunani kuno Oedipus Complex, bercerita kisah seorang anak yang membunuh ayahnya karena perasaan cinta pada ibunya. Kisah yang semula berupa mitos kini berubah menjadi fakta empiris yang tak terbantahkan. Lantas apa yang melatarbelakangi terjadinya perilaku implusif tersebut?.

Hal ini dapat dijawab melalui paparan teoritis dari bapak psikoanalisis Sigmund Freud dalam konsep struktur kepribadian yang terdiri atas tiga bagian utama yaitu id, ego, dan superego. Sederhananya, id merupakan bagian alam bawah sadar manusia yang mendorong pada perilaku primitif untuk mendapatkan kepuasan hasrat dan naluri manusia, ego berperan sebagai mediator antara id dengan dunia luar melalui respon terhadap realita, adapun superego adalah bagian yang telah terinternalisasi dengan norma-norma atau nilai positif dari lingkungan sekitar yang berperan untuk mengontrol perilaku yang dimunculkan oleh kekacauan id.

Ketiga bagian tersebut mempunyai kemiripan pada konsep nafsu dalam Islam, id sebagai nafsu ‘ammaratun bissu’, ego sebagai nafsu lawwamah, dan superego sebagai nafsu muthma’inah. Ketidakmampuan ego dalam memediasi tuntutan agresif id dengan tuntutan normatif dapat melenyapkan superego sehingga memicu realisasi libido seksual. Libido seksual merupakan konsep yang juga dikemukakan oleh Sigmund Freud. Freud mendefisinikan libido seksual sebagai sebuah energi psikis yang memiliki hubungan sangat erat dengan hasrat (nafsu) dan dorongan seksual yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi motivasi dan perilaku seseorang. 

Maka melalui gagasan teoritis Freud dapat diketahui terjadinya perilaku implusif dalam fenomena “fantasi sedarah” dilatarbelakangi oleh besarnya intensitas dorongan id yang memprovokasi hasrat individu diiringi dengan minimnya nilai positif yang terbentuk dalam diri individu menyebabkan kegagalan ego dalam memediasi antara dorongan id dengan tuntutan normatif. 

Berlandaskan paparan teoritis tersebut, menunjukkan pentingnya memperkuat internalisasi nilai positif dan normatif dalam jiwa individu seperti nilai-nilai yang diajarkan dalam agama sebagai sebuah kesadaran yang mampu melindungi sekaligus mengendalikan setiap dorongan yang memiliki tendensi terhadap perilaku implusif. 

Penulis : Naufal Fawwaz Nashrullah, Mahasiswa Prodi  Pendidikan Agama Islam