IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Bila Kitab Suci Al-Qur'an bersumber dari Tuhan, Allah Swt. melalui Muhammad saw., lalu muncul Al-Hadits sebagai sumber kedua bersandarkan dari Nabi Agung tersebut berupa perkataan (,qaul), perbuatan (fi'l) dan keputusan atau persetujuan (taqrir). Dua sumber lain, yaitu: ijma' (konsensus ulama) dan analogi (qiyas) dan beberapa sumber menyertai termasuk tradisi atau kebiasaan ('urf).
Satu bentuk kegiatan yang sudah berlangsung lama mentradisi di tengah masyarakat (transmitted generation) di hari-hari Bulan Syawal adalah lebar-an- ber-lebar-an, menjadi "Lebaran", berasal dari kata, yaitu: lebar ( lapang dada); mengakui atas sikap kurang baik sebelumnya, meminta maaf kepada orang tertentu dan semua orang disekeliling dan bersedia memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita sebelumnya.
Terma," lebar" dan tiga kata lain, yaitu: " labur" ( menge-cat rumah agar tampak bersih), " luber" ( Rizki melimpah dan kemudian disedekahkan) dan "lebur"( meleburkan diri atau menyatu dengan orang lain), kesemuanya terhimpun dalam,"Laku Sing Papat" (Empat Perbuatan Baik) sebagai bentuk nilai kearifan lokal Jawa warisan para wali (ulama).Kata,"lebar" lebih familiar, menjadi "lebaran" mewujud kuat, eksis bagaikan tradisi tertentu bagi umat Islam di Nusantara sebagaimana disebut.
Realisasi dari empat sikap tersebut, dibuatlah makanan dari beras yang direbus menjadi nasi, disebut ,"ketupat" , berbentuk segiempat ( melambangkan hati) dari daun kelapa ( janur). Hati (qalbun) dan janur (jaa'a Nuur), datanglah cahaya.keduanya mengindikasikan kesucian hati, kesucian cahaya dan kesucian hidayah, bertujuan setiap makhluk Allah memiliki jiwa suci dan dekat Dzat yang Mahasuci.
Lebaran tidak disikapi secara berlebihan; hura-hura atau sikap terlalu senang, bergembira ria dan pesta pora, melainkan sikap sederhana dan biasa saja. Hakikatnya adalah bermuhasabah diri,saling memaafkan satu sama lain untuk tujuan kemaslahatan sosial; keberlangsungan peradaban yang baik. Disebutkan, " Laisal-'Iid man Labisal-Jadiid, wa laakinnal-'Iid man Taqwaahu Yaziid" (bukanlah lebaran bagi orang berpakaian baru, akan tetapi lebaran bagi orang yang bertambah ketakwaannya).
Ketika kata Syawal berarti meningkat, maka terangkatlah derajat orang-orang mukmin ("Irtafa'at darojatul- Mu'miniin") karena serangkaian amal ibadah mereka di Bulan Ramadhan. Maka dari itu, hak mereka adalah berlebaran di hari Fitri, sejak 1 Syawal di setiap tahun, seraya disebutkan: " minal-'Aa'idiin wal-Faa'iziin wal-Maqbuuliin fii kulli 'Aamin wa antum bikhairin" (mudah-mudahan kita kembali suci diri, memperoleh kemenangan dan amal ibadah diistijabah Allah Swt. Di setiap tahun kalian dalam kondisi baik).
Meneladani orang-orang bijak terdahulu dalam sejarah, marilah kita meningkatkan kualitas kemanusiaan kita; berkepribadian tinggi dan berintegritas serta terpelihara dari hal- hal yang tidak layak. Setidaknya di hari-hari Bulan Syawal 1446 H ini, kita lakukan tiga hal, yaitu: pertama, "Shil man Qatha'aka" (bersilaturrahimlah dengan orang yang memutuskan tali persaudaraannya Dengan dirimu); ketiga, " wa'thi man haramaka" (berikanlah sesuatu kepada orang yang. mengharamkan dirinya untuk berbagi kepadamu); dan ketiga, " wa'fu 'amman zhalamaka" ( maafkanlah orang yg pernah bersikap zhalim kepadamu). Berikutnya tiada beban yg memberatkan, maka terwujudlah masyarakat Madani.
Obsesi kita adalah menjadi orang baik untuk diri sendiri dan juga menjadi orang baik serta memberi kebermanfaatan bagi orang lain, utamanya di hari-hari Bulan Syawal. Tradisi lebaran diharapkan mencirikannya, wassalam.(*)
Artikel ini ditulis oleh Guru besar Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Rusydi Sulaiman yang rilis dihttps://bangka.tribunnews.com/2025/04/12/tradisi-lebar-an, Sabtu, 12 April 2025 15:22 WIB