Membumikan Dakwah Humanis di Era Cyber Media

avatar Tong Hari
Tong Hari

24 x dilihat
Membumikan Dakwah Humanis di Era Cyber Media
Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS BABEL

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Dunia telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Cara mencari pengetahuan, teman, dan

bahkan jawaban tentang agama dan hidup mengalami perubahan yang signifikan. Jika dulu

dakwah Islam hanya dapat didengarkan dalam ceramah di masjid atau forum pengajian,

sekarang dakwah dapat ditemukan dalam konten di YouTube, video TikTok, podcast, bahkan

cuitan di X (Twitter). Ini bukan hanya perubahan di media; namun perubahan dalam cara

manusia melihat agama. Karena itulah, dakwah harus berubah menjadi dakwah yang

humanis, membumi, dan menyentuh hati.

Urgensi Dakwah Humanis

Dunia modern yang penuh dengan interaksi cepat, perspektif yang beragam, dan sayangnya,

konflik yang mudah terjadi, adalah realitas yang rumit bagi orang-orang. Di sinilah dakwah

harus hadir dengan cara yang humanis dakwah yang ramah, bukan mengecam. Dakwah yang

mendorong, bukan yang memaksa. Pendidikan yang memiliki kapasitas untuk memanusiakan

individu, bukan sekadar memberikan doktrin. Baidawi dan Rozak (2023) menyatakan bahwa

pendekatan humanisme dalam dakwah digital adalah cara untuk menanggapi kerasnya ruang

publik digital, yang sering dipenuhi dengan konflik identitas dan ujaran kebencian. Menurut

Baidawi dan Rozak (2023, hlm. 107), "Penyebarluasan dakwah humanis di media digital

adalah strategi yang diperlukan untuk membangun kesadaran keagamaan yang damai di

masyarakat digital." Jika dakwah di era digital terus disampaikan dengan cara lama,

otoritatif, normatif, dan satu arah, pesan Islam mungkin menjauh dari hati.

Cyber Media Dakwah: Ruang Baru, Tantangan Baru

Saat ini, media sosial bergabung dengan ruang spiritual. Ia lebih dari sekadar tempat hiburan

dan berita tentang artis. Banyak orang menemukan pencerahan, bahkan titik balik, dalam

konten pendek yang tulus dan menyentuh. Media sosial "bukan hanya sebagai alat penyampai

pesan, tapi telah menjadi ruang sosial tempat umat membentuk identitas keagamaannya"

(Musa, 2020, hlm. 92), menurut Musa.Pendakwah tidak hanya dapat memberikan nasihat di

ruang ini. Ia harus menjadi kawan digital yang adil, berbudi luhur, dan mampu memahami

kesulitan orang-orang yang tinggal di dunia maya. Milenial dan Gen Z sangat menghargai

keautentikan dan cara yang ringan untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, penyampaian

dakwah harus mampu memadukan konten yang kaya nilai dengan bentuk penyajian yang

visual, komunikatif, dan inklusif.

Dakwah Humanis: Jawaban atas Polarisasi Sosial

Munculnya radikalisme digital retorika agama yang digunakan untuk menyebarkan kebencian

dan perpecahan adalah salah satu tantangan terbesar era internet. Strategi seperti ini sering

menyebabkan konflik horizontal di dunia nyata dan maya. Di sinilah pendekatan dakwah

humanis sebagai penyeimbang sangat penting. Sebagaimana disampaikan oleh Praselanova

(2022): “Pilar humanis dalam komunikasi dakwah merupakan filter terhadap derasnya ujaran

kebencian yang mengatasnamakan agama” (Praselanova, 2022, hlm. 76). Tanpa memahami

konteks sosial audiens, dakwah yang hanya menekankan apa yang benar dan apa yang salah

akan sulit diterima. Sebaliknya, dakwah yang hadir dengan empati, membuka pertanyaan,

dan tidak menghakimi, akan lebih mengakar di hati.

Strategi Membumikan Dakwah Humanis di Era Cyber Media

Bagaimana kita bisa membuat dakwah terdengar dan dirasakan? Berikut adalah beberapa

pendekatan yang bersifat strategis:

1. Narasi yang Menyentuh

Dakwah harus menggunakan bahasa yang merangkul daripada menggurui. Kisah kehidupan

Nabi dapat digunakan oleh generasi muda saat ini. "Model komunikasi dakwah berbasis

manusia harus menyentuh emosional audiens agar mampu menghadirkan wajah Islam yang

penuh rahmat," kata Muvid (2023, hlm. 59). Cerita sederhana tentang kejujuran, empati, dan

toleransi jauh lebih menarik jika dikemas dengan cerita yang menggugah dan ilustrasi yang

menarik.

2. Kolaborasi Lintas Disiplin dan Komunitas

Agar tujuan dakwah menggapai banyak aspek, maka membangun dakwah yang super tim

dengan bekerjasama dengan seniman muslim, influencer, aktivis kemanusiaan, dan pembuat

konten untuk mempromosikan dakwah melalui berbagai cara, seperti seni visual, musik

religius, animasi dakwah, dan kampanye sosial Islami adalah sebuah kemestian saat ini.

Audiens yang sebelumnya tidak suka "ceramah" konvensional dapat didekati melalui kerja

sama ini.

3. Pemanfaatan Teknologi Interaktif

 

Menjawab pertanyaan audiens secara langsung dengan menggunakan fitur seperti live

streaming, polling, Q&A, dan video respons. Ini membuat dakwah terasa relevan dengan

kebutuhan umat dan kehidupan sehari-hari mereka.

4. Dialog Lintas Iman dan Budaya

Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Islam bukan hanya untuk mereka yang beragama

Islam; itu adalah rahmat yang harus dirasakan oleh setiap orang. Akibatnya, metode asli

dakwah humanis adalah berbicara dengan komunitas lintas iman. Ini menunjukkan bahwa

Islam memungkinkan orang untuk saling mengenal dan menghormati daripada menutup diri.

5. Tampil Autentik dan Konsisten

Masyarakat digital cepat bosan dan mudah menemukan kebenaran. Dengan demikian,

pendakwah digital harus membangun reputasi yang konsisten, yang mencakup tidak hanya

pidato yang sopan tetapi juga interaksi yang sopan di kolom komentar. Jangan hanya islami

saat live, lalu kasar saat offline.

Penutup: Dakwah Harus Menyentuh Jiwa

Untuk menyebarkan dakwah humanis di era internet, tidak hanya perlu menggunakan

platform digital; itu juga perlu mengubah cara kita melihat dakwah itu sendiri. Islam

diciptakan untuk memberikan inspirasi, bukan untuk memaksa. Dakwah adalah cara untuk

menyebarkan kebajikan, bukan untuk memperoleh pribadi yang paling benar. Pendakwah saat

ini dihadapkan pada tantangan untuk berfungsi sebagai jembatan, bukan benteng, antara

prinsip Islam dan kehidupan digital yang serba cepat dan serba terbuka. Pesan akan lebih

diterima jika disampaikan dengan cinta. Orang-orang akan melihat Islam dengan wajah

humanis dan menikmati ajarannya dengan penuh cinta. Wallahu A’lam.

Artikel dimuat di kolom Opini Bangka Pos.com pada 25 April 2025. Penulis adalah Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS BABEL. Akses tulisan: https://bangka.tribunnews.com/2025/04/25/membumikan-dakwah-humanis-di-era-cyber-media