IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA.DI zaman ini, saat jari bisa bicara dan unggahan bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik, media sosial menjadi ruang besar untuk berbagi ide, gagasan, bahkan nilai-nilai keagamaan. Bagi umat Islam, ini adalah peluang emas. Tanpa harus hadir di mimbar masjid, pesan dakwah bisa menembus batas ruang dan waktu.
Namun di balik kemudahan itu, ada tantangan besar: ujaran kebencian yang mengalir deras. Tak jarang, platform yang seharusnya menjadi ladang pahala malah jadi ajang saling hujat. Bukan hanya merusak relasi sosial, tetapi juga mencoreng citra Islam agama yang sejatinya membawa rahmat untuk seluruh alam.
Apa itu ujaran kebencian?
Ujaran kebencian bukan sekadar kata-kata pedas. Ia adalah ekspresi yang menyerang, merendahkan, atau memusuhi seseorang atau kelompok karena identitas mereka: agama, suku, ras, gender, bahkan pandangan politik. Di media sosial, bentuknya bisa macam-macam: komentar kasar, meme merendahkan, hingga kampanye digital yang menyudutkan kelompok tertentu.
Ironisnya, ada yang membungkus ujaran semacam ini dengan label dakwah. Padahal, Islam tak pernah mengajarkan kekerasan verbal. Bila dakwah dilakukan dengan caci maki dan penghakiman, alih-alih mendekatkan orang pada Islam, justru bisa membuat mereka menjauh.
Tantangan dai di dunia digital
Dahulu, berdakwah adalah profesi. Kini, siapa pun bisa jadi “dai digital” hanya dengan modal kuota dan akun media sosial. Ini memberi peluang sekaligus risiko. Beberapa tantangan yang muncul antara lain:
* Kurangnya literasi digital
Tidak semua dai memahami bahwa gaya berbicara langsung tidak selalu cocok dibawa ke ranah online. Retorika keras bisa disalahpahami dan malah menimbulkan konflik.
* Echo chamber dan polarisasi
Algoritma media sosial suka “mengurung” kita dalam gelembung pandangan serupa. Ini membuat kita merasa benar sendiri dan menolak pandangan berbeda.
* Anonimitas dan penyalahgunaan agama
Banyak akun anonim yang membawa nama Islam, namun menyebarkan kebencian. Akibatnya, Islam terkesan sebagai agama yang suka menghakimi.
* Dakwah yang kurang inklusif
Pesan-pesan yang eksklusif, kaku, dan penuh penghakiman justru bertentangan dengan semangat dakwah Islam yang mengajak, bukan memaksa.
Strategi dakwah yang lembut dan efektif
Agar dakwah tetap relevan dan berdampak, kita perlu pendekatan baru yang lebih manusiawi. Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
* Meneladani gaya komunikasi Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW dikenal sangat lembut, penuh empati, dan bijak dalam berkata-kata. Bahkan terhadap yang mencela, beliau tak pernah membalas dengan caci maki. Ini bukan sekadar akhlak, tetapi strategi komunikasi paling efektif.
* Menjadi teladan digital
Sikap di media sosial mencerminkan siapa kita. Ketika diserang, respons dengan sabar. Ketika berbeda pendapat, tetap tenang. Karena yang dinilai bukan hanya isi dakwah, tetapi juga cara menyampaikannya.
* Mengangkat isu-isu sosial yang relevan
Dakwah tidak harus selalu soal fikih. Bicara tentang keadilan, lingkungan, kesehatan mental, atau kemanusiaan justru bisa lebih menyentuh dan menginspirasi generasi muda.
* Kolaborasi dengan influencer positif
Gandeng kreator konten muslim yang kredibel dan memiliki pengaruh luas. Kolaborasi yang sehat bisa memperluas jangkauan dakwah dan meredam dominasi konten negatif.
* Gunakan narasi damai dan inklusif
Bangun narasi yang menyatukan, bukan memecah. Kutip ayat atau hadis yang menekankan rahmat, ukhuwah, dan larangan menyakiti sesama.
Etika Komunikasi Islam: Pilar Dakwah yang Tangguh
Komunikasi dalam Islam bukan sekadar menyampaikan, tetapi ibadah. Ini beberapa nilai utama dalam etika komunikasi Islami:
1. Shidq (jujur): Hindari hoaks. Verifikasi setiap informasi sebelum menyebarkannya.
2. Amanah (bisa dipercaya): Sampaikan dalil dengan jujur. Jangan memelintir untuk kepentingan pribadi.
3. Hilm (lemah lembut): Tetap sabar dan tenang, bahkan saat diserang.
4. Tasamuh (toleransi): Hormati perbedaan. Jangan mudah menghakimi.
Etika ini harus hadir dalam tiap postingan, komentar, dan interaksi kita di media sosial. Jadikan setiap jejak digital sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Media sosial, ladang dakwah atau ladang dosa?
Media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi jembatan kebaikan atau justru jurang kebencian tergantung siapa yang menggunakannya dan bagaimana caranya.
Sebagai muslim, kita punya pilihan: mengisi ruang digital dengan cahaya kasih sayang atau membiarkannya dikuasai oleh suara benci. Dakwah tak harus keras untuk jadi kuat. Justru kekuatan sejatinya ada pada kelembutan, kesabaran, dan kejujuran dalam menyampaikan kebenaran.
Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan ajang perpecahan. Tunjukkan bahwa Islam adalah rahmat, bukan ancaman. Dan bahwa dakwah adalah undangan menuju cahaya, bukan cambuk penghakiman. Wallahu A’lam. (*)
Artikel dimuat di kolom Opini Bangka Pos.com pada 4 Mei 2025. Penulis adalah Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS BABEL. Akses tulisan: https://bangka.tribunnews.com/2025/05/04/dakwah-di-tengah-derasnya-ujaran-kebencian-merawat-citra-islam-di-era-digital?page=all