Menonton Bukan Sekadar Hiburan: Dampak Televisi dan YouTube terhadap Perilaku Anak

avatar Tong Hari
Tong Hari

7 x dilihat
Menonton Bukan Sekadar Hiburan: Dampak Televisi dan YouTube terhadap Perilaku Anak
Dr. Nikmarijal, M.Pd. - Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Babel

IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. DALAM beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap pengaruh media digital terhadap perilaku anak makin meningkat, terutama dalam konteks penggunaan televisi dan YouTube. Dua medium ini, yang awalnya dirancang sebagai sarana hiburan dan informasi, kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Sayangnya, dalam banyak kasus, kehadiran media ini justru menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter dan perilaku anak.  

Anak-anak masa kini menghabiskan berjam-jam di depan layar, menyerap konten yang sebagian besar tidak disaring, baik dari televisi maupun YouTube. Tanpa disadari, mereka menjadikan tokoh-tokoh dalam tayangan sebagai model perilaku yang ditiru secara langsung, baik dari segi gaya bicara, tindakan, maupun cara menyelesaikan konflik. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura, yang menyatakan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan peniruan terhadap figur-figur yang mereka anggap menarik atau dominan. Akibatnya, tayangan yang menampilkan kekerasan, pertengkaran, konsumtivisme, bahkan candaan kasar, secara perlahan namun pasti akan memengaruhi cara anak-anak bertindak di dunia nyata.

Lebih jauh, teori cultivation dari George Gerbner juga menyebutkan bahwa paparan media yang terus-menerus akan membentuk persepsi seseorang terhadap dunia. Jika seorang anak terus-menerus menonton konten glamor atau penuh konflik, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan ideal adalah seperti itu. Hal ini menciptakan jarak antara realitas media dan kehidupan nyata, yang kemudian melahirkan perilaku imitasi yang tidak sesuai konteks sosial anak.  

Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen anak usia sekolah dasar hingga menengah pertama menonton YouTube lebih dari tiga jam per hari, sebagian besar tanpa pengawasan orang dewasa. Dampaknya sangat terasa di sekolah, di mana guru dan konselor pendidikan mulai menemukan peningkatan perilaku impulsif, rendahnya konsentrasi, serta menurunnya kemampuan anak dalam berempati dan bekerja sama.

Namun, penting untuk disampaikan bahwa tidak semua konten media membawa dampak negatif. YouTube, misalnya, menyediakan banyak kanal edukatif yang informatif dan membangun, seperti eksperimen sains, animasi moral, atau cerita budaya. Tayangan seperti itu sangat potensial digunakan sebagai sumber pembelajaran alternatif. Masalahnya adalah bahwa anak-anak pada umumnya lebih tertarik pada konten hiburan yang penuh kejutan visual, sensasi, atau kelucuan ekstrem—yang dalam banyak kasus minim pesan edukatif. Ini terjadi karena anak belum memiliki kemampuan kontrol diri (self-regulation) yang matang sehingga lebih mudah terbawa arus algoritma yang justru mendorong konsumsi konten serupa secara berulang.

Untuk itu, peran orang tua dan guru sangatlah penting. Pendampingan aktif saat anak menonton harus menjadi budaya baru. Tidak cukup hanya membatasi durasi menonton, namun juga penting untuk menemani, mendiskusikan, dan mengarahkan pemahaman anak terhadap isi tayangan.  

Di sekolah, layanan bimbingan dan konseling harus mulai memasukkan literasi media ke dalam materi bimbingan klasikal atau konseling kelompok. Anak perlu diajak untuk membuat jurnal tontonan, mendiskusikan nilai-nilai di dalamnya, dan merefleksikan makna dari apa yang mereka konsumsi secara digital. Langkah-langkah ini dapat membentuk anak menjadi konsumen media yang lebih sadar dan kritis.

Di sisi lain, negara memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan media yang sehat bagi anak. Regulasi yang ketat terhadap konten siaran, pengawasan terhadap kanal anak di YouTube, serta dukungan pada produksi konten lokal yang edukatif perlu digalakkan secara lebih serius. Kolaborasi antara pemerintah, media, platform digital, dan komunitas pendidikan sangat dibutuhkan untuk menjamin anak-anak tumbuh dalam ekosistem digital yang sehat dan mendidik.

Kesimpulannya, televisi dan YouTube bukan musuh, namun alat. Seperti pisau yang bisa digunakan untuk memasak atau menyakiti, media pun tergantung pada siapa yang mengarahkannya dan untuk tujuan apa. Tantangan terbesar kita bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan kita sebagai orang dewasa untuk hadir, membimbing, dan menemani anak-anak dalam menghadapi banjir informasi dan hiburan di era digital ini. Karena pada akhirnya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka tonton, tetapi juga oleh siapa yang membantu mereka memahami apa yang mereka tonton. (*)

Artikel dimuat di kolom Opini Bangka Pos.com,Senin, 12 Mei 2025 Penulis adalah Dr. Nikmarijal, M.Pd. - Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Babel, https://bangka.tribunnews.com/2025/05/12/menonton-bukan-sekadar-hiburan-dampak-televisi-dan-youtube-terhadap-perilaku-anak