IAINSASBABEL.AC.ID BANGKA. Kemarin, 11-12 Oktober 2014, bertempat di asrama haji Bangka Belitung, beberapa akademisi IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berkumpul mendiskusikan konsep dan aktualisasi moderasi beragama di Bangka Belitung. Hadir di tengah-tengah diskusi, narasumber yang sengaja didatangkan dari UIN Gunung Jati Bandung ikut membersamai mereka. Rencananya, hasil akhir dari diskusi nantinya akan menghasilkan dua buah produk buku, yakni buku saku dan buku cerdas tentang moderasi beragama untuk dosen dan mahasiswa.
Meskipun secara regulasi, konsep moderasi beragama belakangan dibanyang-bayangi akan berakhir masanya dan berganti istilah oleh karena perubahan kepemimpinan nasional dan kebijakan. Konsep moderasi beragama pun secara realitanya kerap pula ‘dicibir’ sebagian masyarakat karena dianggap bentuk lain dari moderasi agama. Tuduhan itu tentu sangat tidak berdasar dan berpotensi mengandung unsur kebencian.
Jika dilhat dari terminologi, moderasi agama sejatinya, merupakan bentuk lain penyimpangan dari nilai-nilai primordialnya agama. Ibarat komoditas, bagi para pemeluknya agama telah menjadi sasaran untuk memenuhi hasrat pribadi dan kepentingan. Sisi-sisi luhur agama pun menjadi terdistorsi. Fakta istilah ini berbeda tentunya dengan konsep moderasi beragama.
Berangkat dari penelusuran, isitlah moderasi berasal dari kata “moderat” yang berarti “sikap menengah”, tidak terlalu memihak ke kiri atau pun ke kanan. Dalam bahasa Arab istilah yang digunakan, Tawasuth lawan katanya, Tatharruf yang berarti “ekstrem” (kanan atau kiri). Dari titik ini, Moderasi Beragama diyakini sebagai pemahaman dan pengamalan agama yang memilih jalan tengah di antara jalan-jalan atau paham dan pengamalan yang ekstrem kanan atau ekstrem kiri, cenderung tidak liberal dan tidak pula radikal.
Sikap ini diambil berdasar keyakinan dan kesadaran tentang adanya berbagai perbedaan pemahaman dan pengamalan keagamaan di masyarakat. Realitas ini tentu tidak dapat dipungkiri atau pun dihindari. Perbedaan adalah sunnatullah. Artinya, sejak semula Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, memang telah menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda, tidak sama atau dalam satu warna.
Secara akar, moderasi beragama bersumber dari tradisi dan ajaran agama-agama besar di Indonesia. Pada pengalaman tradisi masyarakat Bangka Belitung misalnya, budaya berlebaran di kalangan muslim dan/atau budaya Imlek untuk masyakat Thionghoa, acapkali menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan kerukunan antar dua budaya dan keyakinan. Di lain sisi, moderasi beragama dalam ajaran, misalnya, di Islam terdapat konsep tawazun (keseimbangan) dan tasamuh (toleransi). Untuk Kristen, ajaran menyangkut kasih dan perdamaian merupakan landasan bermoderasi. Di Hindu, ajarannya pun menekankan pada harmoni dan dharma. Adapun di agama Buddha, memiliki ajaran tentang jalan tengah (Majjhima Patipada). Konghucu pun demikian, ajarannya menekankan kebajikan dan keseimbangan. Beberapa prinsip moderasi di atas tentu menginspirasi dijadikan dasar yang kuat untuk melestarikan kerukunan antarbudaya dan agama yang telah tumbuh subur di Nusantara ini.
Ber-Moderasi Ala Tradisi Besaoh
Tradisi Besaoh adalah tradisi yang terdapat dalam budaya masyarakat Bangka Belitung. Secara makna, besaoh memiliki arti saling tolong menolong, membantu, menghargai, menghormati antarsesama. Berawal dari kebiasaan untuk saling menolong dan bergotong royong bergiliran saat membuka lahan pertanian. Tradisi besaoh ini pun kemudian berkembang dalam pengertian yang lebih luas. Pada konteks kekinian, tradisi besaoh dapat pula dikatakan sebagai semangat saling menghargai antarsesama, antar agama, antar budaya, dan seterusnya.
Barangkali, masyarakat luas umumnya justru lebih memahami Bangka Belitung sebagai daerah penghasil timah terbesar di dunia. Dibalik itu semua, asset terbesar negeri ini sebetulnya harmoni dan toleransi. Dalam kebiasaan keseharian, menurut Pemerhati Sosial Budaya Bangka Belitung, Ahmadi Sopyan, -biasa disapa Atok Kulop, tentunya bisa kita lihat, di saat berlebaran tradisi untuk saling mengunjungi meskipun beda agama. Busana pengantin baru juga terlihat jelas perpaduan antara pengaruh Melayu dan Cina. Kuliner pun sama, ada banyak makanan khas berasal dari daratan Cina seperti Hok Lo Pan atau Pandekok yang dikenal untuk menyebutkan Martabak Bangka. Jadi asimilasi budaya itu tentu bukan barang baru, dan bagi masyarakat Bangka Belitung, asimilasi budaya bersinergi dengan baik (rri.co.id).
Di lain daerah, isu tentang minoritas dan agama kerapkali mejadi alat dan komoditas bagi pialang politik menghancurkan rival politik. Namun tidak demikian di Bangka Belitung, belum pernah ada dan bahkan tidak ada sama sekali upaya ke arah tersebut, dan masyarakatnya pun sedikit pun tidak pernah terpengaruh oleh isu-isu yang kontra produktif. Bahkan setiap individu pemeluk agama dan tradisi di mana pun memegang teguh prinsip dan sikap saling menghargai, menghormati dan penuh toleransi. Melalui moderasi ala Besaoh, pasti akan tercipta hidup penuh harmoni, dan ber-Bhinneka Tunggal Ika takkan pernah jadi slogan semata.
Sikap itu harus benar-benar dapat dijaga, dirawat dan ditata dengan baik, dengan tetap memiliki rasa untuk saling menghargai dan menghormati sekaligus dapat menerima perbedaan. Oleh karena itu sangat menginspirasi jika Gus Men, Yaqut Cholil Qoumas, menjuluki Bangka Belitung, miniaturnya Indonesia.
Rumah Moderasi Beragama
Melalui Surat Keputusan Rektor Nomor 929 Tahun 2022, kepengurusan baru Rumah Moderasi Beragama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung terbentuk. Kehadirannya ini, tentu berfungsi mempromosikan, mengedukasi dan memberikan penguatan pemahaman tentang konsep moderasi beragama di berbagai kegiatan akademik dan nonakademik. Kontribusinya cukup besar, terutama sebagai elan vital penggerak terhadap pemahaman beragama yang moderat.
Terbitnya surat keputusan itu menandai, Rumah Moderasi Beragama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung memiliki manfaat besar dalam menciptakan dan/atau melestarikan kerukunan beragama di tengah masyarakat. Kondisi ini didasari oleh dinamika ekspresi keberagamaan masyarakat di era demokrasi terkadang berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik antar masyarakat, antar umat beragama atau bahkan antar internal umat beragama.
Secara garis besar, program Rumah Moderasi Beragama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung terdiri atas dua hal utama, penguatan isu serta wacana publik dan advokasi kasus. Untuk menunjang program utamanya tersebut, beberapa kegiatan Rumah Moderasi Beragama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung dilakukan, pertama, melaksanakan seminar moderasi beragama di kalangan mahasiswa dan pelajar dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Tujuan kegiatan ini tentunya adalah desiminasi narasi-narasi untuk penguatan isu moderasi beragama. Kedua, memberikan support pelatihan untuk agen-agen moderasi beragama di kalangan dosen. Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung agar setiap peserta nantinya mampu berdialog tentang isu-isu keagamaan dan memiliki komitmen sebagai penggerak moderasi beragama di lingkungan bersangkutan. Ketiga, membuka desa binaan moderasi beragama di Desa Batu Belubang Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah. Tujuan dibukanya desa binaan ini, tentu untuk menumbuhkan para pelopor kerukunan dan harmoni umat beragama yang terlahir dari desa. Keempat, penyusunan buku saku dan buku cerdas moderasi beragama yang diperuntukkan untuk mahasiswa dan dosen. Kegiatan ini bertujuan mempromosikan konsep moderasi beragama secara lebih massif dan terstruktur.
Pada akhirnya, mempromosikan moderasi (sikap) beragama kepada masyarakat harus tetap menjadi panggilan “suci” yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Karena sikap moderat dan moderasi sejatinya diyakini sebagai sikap dewasa. Sebaliknya, kekerasan dan kebencian, apapun itu bentuknya, terutama dengan mengatasnamakan agama, adalah jahat dan kekanak-kanakan. Wallahu a’lam.
Penulis : Dr. Wahyudin Noor, M.S.I.Pengurus RMB IAIN SAS Bangka Belitung/Wakil Dekan II FTAR
Opini ini telah tayang di bangka.tribunnews.com, Senin, 14 Oktober 2024 18:53 WIB Moderasi Sikap Beragama, https://bangka.tribunnews.com/2024/10/14/moderasi-sikap-beragama.